Fluktuasi hormon reproduksi memicu rasa sensitif, bengkak, dan nyeri pada payudara yang dialami oleh 70 persen perempuan menjelang siklus menstruasi bulanan, berdasarkan studi yang dirilis pada Selasa (16/6/2026).
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Kourtney Sims, MD, FACOG, NCMP, dari praktik swasta di Houston, menjelaskan bahwa gejalanya bisa berupa nyeri tajam menusuk, nyeri tumpul, atau peningkatan kepekaan pada puting.
>>> Lionel Messi Cetak Hattrick dan Pecahkan Rekor di Piala Dunia 2026
Keluhan ini dapat terjadi sejak masa pubertas hingga fase perimenopause, dan secara umum dikelompokkan ke dalam nyeri siklik dan nonsiklik.
Nyeri Siklik dan Nonsiklik
Nyeri siklik memiliki pola teratur yang berkaitan langsung dengan siklus menstruasi, menimbulkan rasa pegal hingga sakit dari intensitas ringan sampai parah.
Direktur Divisi Kebidanan dan Ginekologi Umum di George Washington University School of Medicine and Health Sciences, dr. Roxanne Jamshidi, MD, MPH, mengatakan nyeri siklik biasanya terjadi pada kedua sisi dan paling parah di bagian luar atas payudara.
Rasa sakit dapat menjalar ke area ketiak disertai pembengkakan atau benjolan yang menonjol selama dua minggu sebelum menstruasi.
Menurut dr. Jamshidi, ketidaknyamanan ini akan berkurang drastis saat menopause akibat penurunan kadar hormon reproduksi.
Sementara itu, nyeri nonsiklik terasa konstan seperti perih terbakar, menusuk, atau kencang berdenyut tanpa mengikuti pola bulanan.
Jenis nyeri ini umumnya menyerang satu payudara secara spesifik dan muncul pascamenopause, terutama saat menjalani terapi pengganti hormon.
Pakar kesehatan perempuan, dr. Sherry A. Ross, MD, menyebutkan bahwa pergeseran hormon bulanan sangat memengaruhi sensasi pada payudara.
>>> Penerimaan Pajak Januari-April 2026 Capai Rp646,7 Triliun, Tumbuh 16,1%
Lonjakan estrogen di dua minggu pertama siklus memperbesar ukuran payudara sementara, lalu diikuti peningkatan progesteron di paruh kedua siklus yang memicu pembengkakan saluran susu.
Dr. Jennifer Wider, MD, menambahkan bahwa kombinasi hormon ini mengakibatkan pembengkakan dan nyeri payudara.
Lonjakan hormon juga mendorong perubahan fibrokistik atau benjolan nonkanker di sekitar jadwal menstruasi.
Rasa pegal biasanya muncul tiga hingga lima hari sebelum menstruasi dan berangsur pulih setelahnya.
Proses ovulasi sekitar dua minggu sebelum menstruasi memicu lonjakan progesteron pasca-ovulasi, yang kerap membuat perempuan terkecoh mengira sakit berasal dari sisa menstruasi sebelumnya.
Kondisi serupa juga menjadi alasan utama mengapa payudara menjadi sangat sensitif selama kehamilan.
Dr. Wider menuturkan bahwa kadar progesteron terus melambung saat mengandung, menyebabkan nyeri payudara bertahan lama meski tanpa menstruasi.
Ketidaknyamanan pada ibu hamil paling terasa di trimester pertama akibat peningkatan hormon prolaktin yang bertugas membentuk ASI.
>>> Lionel Messi Cetak Trigol dan Samai Rekor Miroslav Klose
Dr. Jamshidi menambahkan bahwa rasa sakit tersebut perlahan membaik atau menghilang sepenuhnya seiring waktu, tergantung kondisi individu.