⌂ Beranda News Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?

Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?

Frugal Living di Kalangan Kelas Menengah: Strategi Bertahan atau Tren Gaya Hidup?
Ilustrasi gaya hidup hemat kelas menengah Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Suasana di restoran dan pusat perbelanjaan kini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Pengunjung masih datang, tetapi lebih banyak yang sekadar melihat-lihat, membandingkan harga, atau berburu diskon.

Banyak yang memilih membawa bekal dari rumah, membatalkan langganan hiburan digital, atau menunda pembelian barang yang diinginkan.

>>> Austria Tekuk Yordania 1-0 di Laga Perdana Grup J Piala Dunia 2026

Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi kondisi ekonomi yang dihadapi kelas menengah Indonesia.

Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, tingginya cicilan, dan perlambatan pertumbuhan pendapatan mendorong lahirnya pola hidup yang dikenal sebagai frugal living.

Istilah ini merujuk pada gaya hidup hemat yang berfokus pada pengeluaran benar-benar diperlukan.

Namun, dalam konteks Indonesia saat ini, frugal living tidak lagi semata-mata pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan bagi sebagian kelas menengah.

Kelas Menengah Menyusut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah terus menurun.

Pada 2019 tercatat 57,3 juta orang, turun menjadi 47,9 juta pada 2024, dan kembali turun menjadi 46,7 juta pada 2025.

Sebaliknya, kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah meningkat menjadi sekitar 142 juta orang.

Ini menunjukkan semakin banyak masyarakat berada di batas antara kelas menengah dan kelompok rentan.

Kelas menengah memiliki peran strategis dalam perekonomian.

Menurut BPS, kelompok ini dan menuju kelas menengah mencapai lebih dari 66 persen populasi dan menyumbang lebih dari 81 persen konsumsi rumah tangga nasional.

Ketika kondisi kelas menengah melemah, mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional ikut kehilangan tenaga. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Faktor Tekanan Ekonomi

Ada sejumlah faktor yang menjelaskan tekanan pada kelas menengah. Pertama, kenaikan biaya hidup lebih cepat dibanding peningkatan pendapatan.

Harga kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan meningkat.

Kedua, meningkatnya ketidakpastian pasar kerja. Transformasi digital menciptakan disrupsi di sektor tradisional, banyak pekerja formal mengalami stagnasi pendapatan atau penurunan kualitas pekerjaan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru