Sebuah pesawat pengebom B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di California. Insiden ini menewaskan sedikitnya delapan orang di area pangkalan militer.
Kecelakaan terjadi di Pangkalan Angkatan Udara Edwards saat pesawat buatan Boeing menjalankan misi rutin. Proses investigasi diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
>>> Pixar Rilis Toy Story 5, Angkat Isu Gawai dan Mainan Digital
Data pelacakan dari AirNav Systems menunjukkan pesawat sempat berbelok tajam ke kanan setelah lepas landas.
Armada berkemampuan nuklir itu hampir menyelesaikan putaran 180 derajat sebelum jatuh di atas landasan pacu lain.
Sistem multilaterasi mencatat pesawat menukik ke tanah dengan kecepatan penurunan 1.541 meter per menit. Kecepatan itu hampir sepuluh kali lebih cepat dari prosedur pendaratan normal.
Dugaan Kerusakan Sistem Kontrol
Pakar keselamatan penerbangan Jeff Guzzetti menduga ada kerusakan pada sistem kontrol penerbangan. Indikasi ini muncul karena pesawat jatuh begitu cepat setelah lepas landas tanpa mencapai ketinggian signifikan.
>>> Pokémon Champions Resmi Rilis di iOS dan Android, Season 3 Dimulai
"Saya pikir itu pasti masalah pengendalian. Apakah terkait kegagalan mesin, kontrol penerbangan, atau perangkat pengujian baru, saya tidak yakin," kata Guzzetti.
Juru bicara Sayap Uji Terbang 412, Mike Paoli, menyatakan lapangan terbang di kompleks pangkalan masih ditutup.
Kebakaran besar sempat terjadi, dan hampir tidak ada material tersisa dari badan pesawat.
>>> Dukcapil Batasi Penggantian Foto e-KTP Hanya untuk Kondisi Tertentu
Misi penerbangan ini merupakan bagian dari program jangka panjang militer AS. Program itu bertujuan menjaga armada pengebom yang sudah lama beroperasi tetap terbang hingga beberapa dekade mendatang.