⌂ Beranda News IEA: Krisis Selat Hormuz Ungkap Kerentanan Energi Asia Tenggara

IEA: Krisis Selat Hormuz Ungkap Kerentanan Energi Asia Tenggara

IEA: Krisis Selat Hormuz Ungkap Kerentanan Energi Asia Tenggara
Kapal tanker melintas di Selat Hormuz
A A Ukuran Teks16px

Gangguan pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah membuka kerentanan struktural sektor energi di Asia Tenggara.

Kawasan yang bergantung pada impor ini menghadapi risiko pasokan dan lonjakan biaya yang besar.

>>> Kemenhub: 24,36 Persen Kendaraan Angkutan Barang Langgar Aturan

Hal itu terungkap dalam laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 yang dirilis International Energy Agency (IEA) pada Selasa (16/6/2026) waktu setempat.

IEA menilai pemerintah di Asia Tenggara telah mengambil langkah memperkuat ketahanan energi.

Namun, dibutuhkan upaya lebih berani dan kerja sama regional yang lebih kuat karena permintaan energi diperkirakan meningkat pesat.

Ketergantungan Tinggi pada Timur Tengah

Laporan IEA menunjukkan besarnya ketergantungan Asia Tenggara terhadap energi dari Timur Tengah. Sebanyak 60 persen impor minyak mentah kawasan berasal dari kawasan tersebut.

Hampir separuh produk minyak yang diolah maupun dikonsumsi di Asia Tenggara bersumber dari minyak mentah kawasan itu. Akibatnya, penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz berdampak luas bagi negara-negara ASEAN.

Gangguan itu memicu kelangkaan bahan baku petrokimia, produk kimia, hingga liquefied petroleum gas (LPG) rumah tangga. Dalam jangka pendek, pemerintah berfokus mengendalikan dampak langsung melalui langkah darurat.

Beberapa kebijakan yang dilakukan antara lain mendorong masyarakat bekerja dari rumah serta meningkatkan penggunaan transportasi umum. Namun, IEA menilai langkah jangka pendek saja tidak cukup.

Diversifikasi dan Kerja Sama Regional

Asia Tenggara perlu mengatasi kerentanan mendasar karena tagihan impor energi kawasan diperkirakan mencapai 160 miliar dollar AS pada tahun ini.

Angka ini diproyeksikan mencapai 400 miliar dollar AS pada pertengahan abad.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, Asia Tenggara merupakan kawasan penting yang akan membentuk tren energi global pada masa depan.

"Asia Tenggara adalah kawasan penting yang membentuk tren energi global dan diperkirakan akan menyumbang 20 persen dari pertumbuhan permintaan energi dunia selama dekade berikutnya, kedua setelah India.

Krisis energi telah mengungkap kelemahan struktural di sektor energinya yang perlu ditangani dengan cepat dan tegas," kata Birol.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru