Para pemimpin negara Kelompok Tujuh (G7) sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap ekonomi Rusia dengan memperketat sanksi di sektor minyak dan gas.
Kesepakatan ini diumumkan dalam pernyataan resmi pada Rabu (17/06) setelah Presiden AS Donald Trump berhasil membuka kembali Selat Hormuz.
>>> Sudinhub Jakarta Utara Tertibkan Ratusan Kendaraan Parkir Liar
Dengan normalnya distribusi minyak, sanksi terhadap Rusia yang sempat dilonggarkan dapat kembali diberlakukan secara penuh.
Selain sanksi ekonomi, G7 juga berkomitmen mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara, termasuk sistem tambahan dan pencegat, serta kemampuan jarak jauh ke Ukraina.
"Kami menilai ini momen yang tepat untuk mengambil langkah tambahan," demikian bunyi pernyataan resmi para pemimpin G7.
Isu Ukraina menjadi prioritas utama sejak agenda resmi KTT G7 dimulai pada Selasa (16/06).
Presiden Prancis Emmanuel Macron selaku tuan rumah menegaskan hal tersebut dan turut mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan pandangan berbeda mengenai dampak konflik terhadap negaranya.
"Tidak berdampak pada kami, selain kami menjual senjata ke Ukraina," kata Trump kepada media.
>>> Pencuri Gasak Tas Pengunjung di Toilet Mal Senayan
Trump menilai posisi geografis AS yang jauh membuat konflik tersebut tidak memberikan pengaruh langsung.
Namun, ia menegaskan bahwa sanksi terhadap Rusia dapat diberlakukan kembali dan Rusia harus membuat kesepakatan untuk menghentikan perang.
Respons optimistis datang dari pihak Eropa yang saat ini menjadi penyumbang bantuan finansial terbesar bagi Ukraina.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, "Arus mulai berbalik untuk Ukraina." Ia melihat perubahan situasi signifikan pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya di garis depan.
"Situasi pada 2026 sangat berbanding terbalik dengan 2025. Ukraina bertahan dengan berani di garis depan, sementara Rusia mulai terlihat kelelahan," ujarnya.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menambahkan bahwa Trump berada dalam suasana kooperatif dan tidak keberatan dengan keterlibatan negara-negara Eropa dalam perundingan damai.
>>> SKORZ FX Sudirman: Pusat Sportainment Seru di Tengah Jakarta
Di tengah upaya diplomatik, Rusia dilaporkan masih terus melancarkan serangan menggunakan ratusan drone dan puluhan rudal yang merusak situs keagamaan serta budaya di kota-kota besar Ukraina pada Senin (15/06).