Kebijakan imigrasi ketat Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di ajang Piala Dunia 2026.
Laga Senegal melawan Prancis di Stadion MetLife, New Jersey, berakhir dengan kekalahan 1-3 bagi Singa Teranga.
>>> Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Tepi Barat, Otoritas Palestina Kecam
Namun, perhatian bek Senegal Kalidou Koulibaly justru tertuju pada tribun penonton yang sepi dari dukungan langsung penduduk asal Senegal.
Mantan pemain Napoli dan Chelsea itu mengaku sangat kecewa.
Pembatasan ini merupakan dampak dari kebijakan imigrasi era Presiden Donald Trump yang memasukkan Senegal dalam daftar hitam.
Aturan tersebut melarang warga Senegal masuk ke AS untuk bisnis maupun pariwisata.
Akibatnya, sebagian besar pendukung yang hadir hanyalah diaspora yang sudah menetap di Amerika Serikat. Meski keluarga pemain masih mendapat izin, suporter umum tetap terhalang.
>>> Videografer Freelance Yogyakarta Pilih Tolak Tawaran Kerja BUMN Demi Berkembang
"Federasi telah mengurus agar orang tua atau keluarga dekat kami bisa ikut. Namun benar bahwa beberapa pendukung tidak bisa terbang ke Amerika," kata Koulibaly kepada The Athletic.
"Menurut saya, setiap tim bisa didampingi orang-orang terdekat mereka. Saya tidak mengerti mengapa orang dari Afrika tidak bisa didampingi orang terdekat mereka," lanjutnya.
Koulibaly enggan berbicara soal politik. "Saya hanya ingin berbicara tentang sepak bola, menikmati sepak bola.
Sepak bola adalah untuk semua orang," tegasnya.
>>> Vardar vs KuPS di Kualifikasi Liga Champions, Ini Jadwalnya
Kekalahan dari Prancis membuat langkah Senegal di Piala Dunia 2026 semakin berat. Namun, persoalan akses suporter menjadi isu tersendiri yang disorot pemain.