⌂ Beranda News Dokter Andik Wijaya Sarankan Skrining Kesehatan Sebelum Pelari Ikuti Maraton

Dokter Andik Wijaya Sarankan Skrining Kesehatan Sebelum Pelari Ikuti Maraton

Dokter Andik Wijaya Sarankan Skrining Kesehatan Sebelum Pelari Ikuti Maraton
Ilustrasi pemeriksaan jantung untuk pelari maraton
A A Ukuran Teks16px

Risiko kematian mendadak akibat gangguan jantung saat lari jarak jauh dapat ditekan dengan skrining kesehatan yang tepat sebelum memulai latihan.

Hal ini disampaikan Dr. Andik Wijaya, MD, MRepMed dari Yada Institute menanggapi kematian peserta BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026, Agus Putranadi, pada Rabu (17/6/2026).

>>> BI Naikkan Suku Bunga Acuan Dua Kali dalam Dua Pekan Jadi 5,75 Persen

Korban yang mengikuti kategori half marathon kolaps di kilometer 14 dan meninggal di rumah sakit.

Menurut data sport cardiology dan sport medicine, usia muda tidak menjamin aman dari risiko gangguan jantung mendadak.

"Tes, jangan terka. Diperiksa, bukan diterka.

Diperiksa, bukan diduga. Diperiksa, bukan dirasa-rasa," kata dr. Andik.

Ia menjelaskan bahwa maraton bukan penyebab utama kematian mendadak, melainkan kondisi medis yang tidak terdeteksi.

Pada pelari di bawah 35 tahun, penyebab tersering adalah hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yaitu penebalan otot bilik jantung yang mengganggu sistem kelistrikan.

"Korban biasanya memiliki ventrikel yang tidak normal. Ventrikelnya tebal, ada jaringan fibrotik yang menyebabkan aliran listrik pengontrol denyut jantung terganggu," ujarnya.

Sementara itu, pelari di atas 35 tahun rentan terhadap penyakit jantung koroner atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD). Kedua kelainan ini dapat dideteksi dini dengan elektrokardiografi (EKG) dan ekokardiografi.

>>> Presiden Prabowo Panggil Direksi Bank BUMN ke Istana untuk Arahan Khusus

"Ini sebenarnya bisa dicegah karena sangat mudah dideteksi kalau kita melakukan skrining sebelum orang memulai pelatihan untuk aktivitas lari jarak jauh," kata Andik.

Bagi pelari senior, pemeriksaan tambahan seperti treadmill atau stress test disarankan untuk menilai pasokan oksigen saat jantung bekerja keras.

Pemeriksaan laboratorium untuk gula darah, kolesterol, fungsi ginjal, dan fungsi hati juga diperlukan.

"Treadmill dilakukan untuk mengetahui apakah ketika jantung dalam pembebanan berat, aliran darahnya mampu memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke otot jantung," jelas dr. Andik.

Pemeriksaan kesehatan idealnya dilakukan sejak awal program latihan, bukan hanya menjelang perlombaan.

Andik mencontohkan dirinya yang didiagnosis penyakit jantung koroner pada April 2024, namun tetap mampu menyelesaikan BTN JAKIM 2026 dalam kondisi bugar di usia 60 tahun.

"Saya masuk kategori pelari senior atau master karena usia saya 60 tahun, dan kemarin saya bisa berakhir di garis finis dalam kondisi cukup bugar," ujarnya.

Pengalaman ini mematahkan anggapan bahwa pelari muda pasti aman dan pelari senior pasti berbahaya. "Usia muda tidak berarti pasti aman.

>>> OJK Tetapkan Tujuh Calon Direksi BEI Periode 2026-2030

Usia lanjut tidak berarti pasti berbahaya," kata Andik.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru