⌂ Beranda News Bank Indonesia Pantau Khusus Inflasi di 13 Provinsi

Bank Indonesia Pantau Khusus Inflasi di 13 Provinsi

Bank Indonesia Pantau Khusus Inflasi di 13 Provinsi
Gedung Bank Indonesia dengan grafik inflasi
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) secara ketat memantau pergerakan inflasi di 13 provinsi yang mulai mendekati atau bahkan melewati batas sasaran nasional.

Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga komoditas global dan potensi risiko cuaca buruk.

>>> KPK Minta Tambahan Anggaran Rp989 Miliar untuk Pemberantasan Korupsi 2027

Deputi Gubernur Senior BI, Aida S Budiman, menjelaskan bahwa tekanan inflasi saat ini dipicu oleh dua faktor utama.

Faktor pertama adalah rambatan global, seperti kenaikan harga minyak dan komoditas dari luar negeri yang dikenal sebagai inflasi impor.

Faktor kedua yang terus diwaspadai adalah gangguan cuaca yang berpotensi mengganggu sektor pertanian dan pasokan pangan nasional.

Kedua faktor ini diperkirakan memengaruhi fluktuasi harga pada kelompok pangan bergejolak serta harga yang ditentukan pemerintah.

Fluktuasi harga bahan bakar minyak nonsubsidi diprediksi menyumbang inflasi sekitar 0,25 persen. Sementara itu, dampak kenaikan harga pupuk dinilai masih minimal karena pasokan dalam negeri mencukupi.

Meskipun ada peningkatan tekanan harga komoditas global, BI memastikan proyeksi inflasi nasional masih terkendali dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen.

Inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan, masih sesuai target.

Inflasi Pangan Bergejolak dan Risiko El Nino

Deputi Gubernur BI, Ricky P Gozali, menyoroti kenaikan signifikan pada kelompok pangan bergejolak yang mencapai 6,24 persen secara tahunan.

"Inflasi volatile food inilah yang dampaknya sangat terasa, terutama di daerah-daerah," ujarnya.

Ancaman penguatan intensitas fenomena cuaca El Nino hingga Oktober atau November 2026 berisiko menekan produktivitas hortikultura, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

>>> IDRS Soroti Standar Keselamatan Motor Listrik yang Belum Mengikat

Peningkatan intensitas El Nino dapat menurunkan produktivitas komoditas hortikultura.

Secara umum, mayoritas wilayah Indonesia masih mencatat tingkat inflasi yang aman dan berada dalam rentang sasaran pada Mei 2026.

Namun, perhatian khusus diarahkan ke 13 provinsi yang menunjukkan tren kenaikan harga signifikan.

Tiga provinsi dengan kenaikan inflasi tertinggi adalah Papua Barat sebesar 5,94 persen, diikuti Aceh sebesar 5,12 persen, dan Kalimantan Tengah sebesar 4,55 persen.

Kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai dan bawang merah menjadi pemicu utama.

Di Aceh, inflasi tahunan didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan Aceh Tengah mencatat inflasi tertinggi 6,09 persen.

Kalimantan Tengah mencatat inflasi 4,56 persen, terutama pada sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Papua Barat mencatat angka inflasi tertinggi, didorong oleh lonjakan besar pada kelompok transportasi yang mencapai 14,89 persen secara tahunan.

Bank Indonesia terus mengintensifkan koordinasi bersama 46 kantor perwakilan wilayahnya untuk merancang langkah mitigasi yang tepat.

Sinergi juga diperkuat bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera.

>>> Kanada Pesta Gol ke Gawang Qatar 6-0 di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Program tersebut bertujuan menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru