⌂ Beranda News Jerman Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Misi Ranjau

Jerman Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Misi Ranjau

Jerman Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Misi Ranjau
Kapal perang Jerman bersiap di Selat Hormuz
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Pertahanan Jerman mengerahkan kapal penyapu ranjau Fulda dan kapal pendukung Mosel melintasi Terusan Suez menuju Selat Hormuz pada Kamis (18/6) dini hari.

Pengiriman armada militer Bundeswehr ini dilansir dari pengumuman resmi pemerintah Jerman di Berlin.

>>> KFA Tegur Media Usai Pemain Timnas Korea Selatan Boikot Wawancara

Sebanyak 140 personel Angkatan Laut Jerman dijadwalkan singgah di Djibouti setelah melewati Laut Merah untuk mematangkan rencana operasi.

Keputusan pengerahan pasukan ini diambil menyusul situasi di Selat Hormuz yang sempat ditutup secara de facto oleh Iran menggunakan ranjau laut pasca-serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.

Tindakan tersebut memicu lonjakan harga bahan bakar global akibat terganggunya pasokan minyak dan gas alam cair.

Misi Damai yang Masih Bersifat Kemungkinan

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memberikan penjelasan mengenai tujuan pengiriman armada ini saat memimpin persiapan di Brussel, Belgia.

Ia menyebutnya sebagai "kemungkinan misi damai di Selat Hormuz".

Pemerintah Jerman menegaskan status operasi tersebut masih bersifat kemungkinan karena pembersihan ranjau baru bisa berjalan jika konflik sepenuhnya reda.

Operasi bersenjata Bundeswehr ke luar negeri juga diwajibkan mengantongi dasar hukum internasional serta mandat resmi dari parlemen Jerman, Bundestag.

Tantangan teknis pembersihan di kawasan tersebut dinilai sangat tinggi karena karakteristik ranjau laut yang sulit dilacak.

Pakar keamanan maritim dari Institut Kebijakan Keamanan Universitas Kiel, Johannes Peters, menyebut Jerman memiliki banyak pengalaman dalam operasi pembersihan ranjau.

"Dalam hal ini kami memiliki banyak pengalaman," ujar Johannes Peters.

Ia menambahkan bahwa keahlian tersebut didapatkan karena wilayah operasi utama mereka di Laut Utara dan Laut Baltik menyimpan sisa bahan peledak terbesar dari Perang Dunia I dan II.

"Karena kawasan itu pada dasarnya adalah wilayah operasi kami, kami memiliki keahlian besar, termasuk dalam menangani dan membersihkan bom yang gagal meledak," kata Peters.

Kondisi arus laut juga menyulitkan pendeteksian karena posisi ranjau bisa bergeser dari titik awal peluncurannya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru