Ondel-ondel, boneka raksasa yang akrab di masyarakat Betawi, ternyata menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Di balik wujudnya yang besar, kesenian tradisional ini dulunya dibuat sebagai penanda dan simbol penjaga lingkungan.
>>> Andre Rosiade Dorong Percepatan Pembangunan Pekanbaru Lewat Sinergi BUMN dan KPBU
Masyarakat Betawi percaya bahwa ondel-ondel memiliki kekuatan untuk menangkal gangguan spiritual dan melindungi warga dari segala marabahaya.
Kesenian ini selalu ditampilkan berpasangan, dengan figur laki-laki berwajah merah melambangkan keberanian dan kekuatan, serta figur perempuan berwajah putih melambangkan kesucian dan kebaikan.
Hiasan berwarna-warni di atas kepala boneka, yang dikenal sebagai kembang kelapa, merepresentasikan harapan, kesejahteraan, dan simbol kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Pada masa lalu, ondel-ondel memiliki raut wajah yang cenderung menyeramkan dan dilengkapi taring.
Namun, seiring waktu, rupanya dimodifikasi menjadi lebih bersahabat tanpa mengubah esensi dan maknanya sebagai simbol perlindungan.
>>> Elite Politik Israel Terkejut dengan Kritikan Tajam Wapres AS JD Vance
Proses Pembuatan dan Musik Pengiring Ondel-Ondel
Struktur dalam ondel-ondel dirancang dari anyaman bambu agar ringan dipikul pemain. Bagian kepala menyerupai topeng, sementara rambutnya terbuat dari ijuk yang dibalut kertas warna-warni.
Proses pembuatan tradisional melibatkan sesajen seperti bubur merah-putih, rujak tujuh rupa, aneka bunga, dan ritual pembakaran kemenyan.
Setelah jadi, boneka kembali diberi sesajen dan dibakari kemenyan sembari dibacakan mantra khusus.
Pementasan ondel-ondel selalu diiringi musik khas Betawi seperti kendang, kentongan, rebana, gong, biola Betawi, hingga atraksi pencak silat.
>>> Aldi Satya Mahendra Ungkap Perbedaan Kepuasan Raih Podium WorldSSP 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini melarang penggunaan ondel-ondel untuk mengemis di jalanan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Betawi.