Kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan tidak lagi hanya ditopang oleh saham-saham kecerdasan buatan (AI).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, dan kebijakan suku bunga yang stabil dinilai dapat mendorong penguatan pasar secara lebih luas.
>>> CORTIS dan Musisi Lokal Meriahkan Allo Bank Festival 2026
Pendiri Macro Compass, Alfonso Peccatiello, menilai kondisi ekonomi saat ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pasar saham.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi relatif terkendali, dan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menjaga arah kebijakan moneter tetap dapat diprediksi dengan mempertahankan suku bunga.
"Kombinasi tersebut secara historis menjadi kondisi yang positif bagi pasar saham," tulis Peccatiello, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (20/6/2026).
Berdasarkan kerangka analisis yang digunakannya, indeks S&P 500 berpotensi mencapai kisaran 8.000 hingga 8.150 dalam enam bulan ke depan.
Proyeksi itu berarti indeks masih berpeluang naik sekitar 8-10 persen dibandingkan posisi penutupan pada Kamis lalu.
Kondisi Goldilocks Dinilai Mendukung Pasar
Peccatiello menyebut kondisi pasar saat ini sebagai skenario "Goldilocks", yakni ketika pertumbuhan ekonomi tetap kuat setelah memperhitungkan inflasi, tetapi tidak terlalu panas.
Dalam kondisi tersebut, inflasi inti masih terkendali dan The Fed tidak melakukan pengetatan agresif.
Menurut definisinya, bank sentral hanya menahan suku bunga atau menaikkannya paling banyak satu kali.
Data Macro Compass menunjukkan, sejak 1990, kondisi seperti itu menghasilkan rata-rata kenaikan S&P 500 sebesar 9,5 persen dalam periode enam bulan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan 5,8 persen pada periode enam bulan biasa, dengan tingkat keberhasilan pola mencapai 96 persen.
Peccatiello menilai pasar saham tidak memerlukan kondisi yang sempurna untuk mencatat kenaikan di atas rata-rata.
Yang dibutuhkan adalah kombinasi pertumbuhan ekonomi dan kepastian arah kebijakan.
Ia melihat likuiditas di ekonomi AS masih cukup kuat, didukung oleh defisit fiskal pemerintah dan pertumbuhan kredit sektor swasta yang menopang pertumbuhan nominal.
