Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup.
Langkah ini terjadi di tengah proses negosiasi gencatan senjata selama 60 hari yang sedang diupayakan oleh Amerika Serikat dan Iran.
>>> Belanda Hajar Swedia 5-1 di Piala Dunia 2026
Pihak militer Amerika Serikat menegaskan bahwa jalur perairan vital tersebut tetap beroperasi normal. Kapal-kapal komersial dilaporkan masih terus melintasi jalur logistik global tersebut.
Klaim penutupan ini berpotensi mempersulit jalannya pembicaraan damai yang ditengahi oleh Pakistan.
Padahal, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru saja menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang empat bulan mereka.
IRGC mengeluarkan peringatan keras bahwa kapal-kapal dagang akan menghadapi risiko besar jika nekat mendekati Selat Hormuz.
Jalur laut ini dikenal sebagai rute paling krusial bagi pasokan minyak dan gas global.
Ketegangan ini dipicu oleh tuduhan Iran terhadap tindakan Israel di Lebanon, yang dinilai melanggar komitmen gencatan senjata dari AS.
Namun, Komando Pusat AS melaporkan sebanyak 55 kapal dagang tetap melintas dengan aman membawa lebih dari 17 juta barel minyak.
Komando Pusat AS juga memastikan bahwa pasukan mereka akan tetap berjaga di kawasan tersebut.
Kehadiran militer ini bertujuan untuk menjamin kelancaran lalu lintas komersial internasional dari segala bentuk gangguan.
Melalui unggahan di media sosial, Donald Trump menegaskan tidak akan ada biaya tol yang dikenakan untuk melewati Selat Hormuz selama masa perundingan.
Namun, ia membuka peluang pengenaan biaya di masa depan jika kesepakatan damai menemui jalan buntu.
>>> Harga Emas Batangan di Pegadaian Stabil pada 21 Juni 2026
Di sisi lain, Mohammad Mokhber selaku penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei melayangkan kritik tajam.
Ia menuduh Washington gagal menerapkan poin pertama dari kesepakatan bersama yang mencakup gencatan senjata di semua lini.
Perundingan Diplomatik di Swiss
Di tengah situasi yang rapuh, momentum pembicaraan bilateral antara AS dan Iran di Swiss dilaporkan terus meningkat.