⌂ Beranda News Wacana Ganti Nama dan Pindah Markas Klub Sepak Bola Kembali Mengemuka

Wacana Ganti Nama dan Pindah Markas Klub Sepak Bola Kembali Mengemuka

Wacana Ganti Nama dan Pindah Markas Klub Sepak Bola Kembali Mengemuka
Suasana stadion sepak bola di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Menjelang bergulirnya musim baru kompetisi sepak bola Indonesia, wacana pergantian nama dan perpindahan markas klub kembali menjadi perbincangan hangat.

Dua klub yang paling banyak disorot adalah Malut United dan Adhyaksa FC. Keduanya dikabarkan akan berganti nama dan memindahkan home base.

>>> Caltech Bangun Teleskop Radio Tercepat di Dunia di Gurun Nevada

Malut United disebut-sebut akan berubah menjadi Jateng United FC dan bermarkas di Stadion Jatidiri, Semarang. Sementara Adhyaksa FC dikabarkan pindah ke Palangkaraya dengan menggunakan Stadion Tuah Pahoe.

Bahkan, beredar pula kabar bahwa Adhyaksa FC berpotensi berganti nama menjadi Persiter Ternate dan menggunakan Stadion Gelora Kie Raha sebagai kandang.

Pengamat: Perubahan Identitas Khianati Suporter

Pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali menilai perpindahan identitas klub bukan hanya persoalan administratif, tetapi juga menyangkut perasaan para pendukung.

"Padahal sebelumnya Malut United digadang-gadang sebagai klub satu-satunya di Ternate, bahkan masyarakat di sana sudah menyerukan kalimat Toma Malut United," ujar Akmal kepada Kompas.

com.

"Tapi kemudian dengan mudahnya berpindah ini kan menghianati perasaan suporter di Ternate khususnya," imbuhnya.

Ia juga menyoroti kabar Adhyaksa FC yang promosi ke Liga 1 dan pindah ke Kalimantan. Menurutnya, regulasi harus diperketat agar klub tidak setiap musim berganti nama dan lokasi.

>>> Kader Gerindra Zeng Wei Jian Meninggal Dunia Akibat Sakit Liver

"Harus dibuatkan regulasi yang tegas," tegas Akmal.

Perlunya Badan Khusus Atur Kepemilikan Klub

Akmal menilai sudah saatnya sepak bola Indonesia memiliki badan khusus yang mengatur perpindahan kepemilikan klub secara profesional.

"Komite khusus untuk melakukan konsorsium atau badan khusus yang bisa membuat aturan-aturan klub itu bisa diperjualbelikan sahamnya, bukan kemudian lisensinya lalu berganti tempat dan berganti nama," tutur pengamat yang juga koordinator Save Our Soccer itu.

Ia mengingatkan bahwa perpindahan klub secara terus-menerus berpotensi merusak fondasi kompetisi nasional. Ia khawatir muncul kelompok tertentu yang dengan mudah membeli klub, membawa promosi, lalu menjualnya kembali.

"Akhirnya kompetisi sepak bola Indonesia yang diharapkan menjadi candradimuka sepak bola Indonesia pada ujung-ujungnya adalah pasar gelap kelompok-kelompok tertentu yang bisa menguasai hakikat dan ekosistem sepak bola Indonesia untuk jual beli lisensi," ujar Akmal.

Ia meminta PSSI memperkuat aturan kepemilikan klub, termasuk melarang satu perusahaan atau individu memiliki lebih dari satu klub di kompetisi yang sama.

"Karena ini membuka celah terjadinya pengaturan skor.

>>> Pemerintah Beri Diskon Tiket Kereta, Pesawat, dan Kapal Selama Libur Sekolah

Ketegasan PSSI sangat diperlukan dalam menata kelola kompetisi sepak bola nasional agar kompetisi sehat, bersih, kompetitif, profesional dan martabat," pungkasnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru