Sebuah gunung api bawah laut di Laut Bismarck, sebelah utara Papua Nugini, tengah menjadi perhatian para ilmuwan.
Aktivitas vulkanik yang terpantau sejak awal Mei 2026 berpotensi melahirkan pulau baru di permukaan Bumi.
>>> Erick Thohir Buka Peluang Hapus Larangan Suporter Away
Fenomena ini dipantau menggunakan citra satelit Aqua dan Terra milik NASA.
Dari luar angkasa, satelit merekam semburan uap, perubahan warna air laut, hingga hamparan batu apung vulkanik yang mengapung di sekitar lokasi letusan.
Letusan bermula pada 8 Mei 2026, saat sensor seismik mendeteksi gempa kecil di dasar laut.
Tak lama kemudian, citra satelit menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik bawah laut yang sebelumnya belum dipetakan secara rinci.
Menurut peneliti, material vulkanik yang terus dimuntahkan perlahan menumpuk ke arah permukaan.
Jika berlanjut, endapan lava dan abu vulkanik dapat muncul di atas permukaan laut dan membentuk daratan baru.
Namun, apakah pulau tersebut akan bertahan lama masih menjadi tanda tanya.
Para ilmuwan mengamati dengan saksama apakah peristiwa ini akan menembus permukaan laut dan meninggalkan daratan baru yang permanen.
Fenomena Serupa Pernah Terjadi
Fenomena seperti ini pernah terjadi sebelumnya.
Contoh paling terkenal adalah Surtsey di Islandia yang muncul akibat letusan gunung api bawah laut pada 1963 dan masih bertahan hingga kini.
Sebaliknya, banyak pulau vulkanik lain hanya bertahan beberapa bulan atau tahun sebelum terkikis ombak.
>>> Swiss vs Kolombia Imbang Tanpa Gol, Laga Lanjut ke Babak Tambahan
Para ahli mengingatkan bahwa ombak dan erosi laut dapat dengan cepat menghancurkan material vulkanik yang masih rapuh.
Perkembangan letusan kali ini hampir seluruhnya dipantau dari luar angkasa.
Citra satelit memperlihatkan kolom uap yang menjulang beberapa kilometer, air laut berubah warna akibat abu dan mineral vulkanik, serta batu apung yang hanyut mengikuti arus.
