Pulau Migingo, sebuah batu kecil di Danau Victoria, memiliki luas hanya sekitar 2.000 meter persegi atau setengah hektare.
Ukurannya bahkan lebih kecil dari lapangan sepak bola standar. Namun, pulau ini dihuni hampir 1.800 orang.
>>> Tingkatkan Euforia Pesta Bola Dunia dengan Perlengkapan Ini
Kepadatan penduduknya termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Rumah-rumah seng berdiri rapat tanpa banyak ruang terbuka.
Gang-gang sempit menjadi satu-satunya akses bagi warga. Kondisi hidup di sana jauh dari nyaman.
Pulau Migingo tidak memiliki jaringan air bersih, sistem pembuangan limbah, maupun rumah sakit. Akses internet juga sangat terbatas.
Travel content creator Kieran Brown yang mengunjungi pulau itu menggambarkan tempat tersebut penuh keterbatasan.
"Di sini tidak ada air mengalir, tidak ada sistem pembuangan limbah, bahkan tidak ada rumah sakit," ujar Brown.
Meski begitu, kehidupan di Migingo berjalan nyaris tanpa henti. Warga membangun toko kelontong, apotek, salon, tempat pangkas rambut, bar, hingga kasino kecil.
Ikan Nile Perch Jadi Daya Tarik Utama
Alasan utama orang rela tinggal berdesakan adalah ikan Nile perch atau ikan nila raksasa Afrika yang melimpah di perairan sekitar Danau Victoria.
Ikan ini menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Kawasan di sekitar Migingo berubah menjadi lokasi penangkapan ikan paling menguntungkan di Afrika Timur.
Brown menjelaskan bahwa perairan di sekitar pulau dipenuhi ikan Nile perch yang bernilai jutaan dolar dalam perdagangan ekspor.
"Siapa yang menguasai Migingo berarti menguasai sumber uangnya," katanya.
>>> Jadwal Semifinal Japan Open 2026: 2 Wakil Indonesia Beraksi
Setiap hari, ratusan nelayan berangkat melaut dari pulau ini. Hasil tangkapan mereka dipasarkan ke Kenya, Uganda, hingga negara lain.
Nilai tangkapan ikan harian diperkirakan bisa mencapai sekitar £6.000 atau lebih dari Rp130 juta.
