Nilai ekonomi yang besar membuat Migingo menjadi sumber sengketa antara Kenya dan Uganda.
Menurut batas kolonial tahun 1926, pulau tersebut berada di wilayah Kenya.
Namun sejak 2004, Uganda juga mengklaim pulau itu dan sempat menempatkan aparat keamanan serta memungut pajak dari nelayan.
Perselisihan ini dijuluki 'perang terkecil di Afrika' karena memperebutkan wilayah seluas 2.000 meter persegi.
Pada 2009, kedua negara sepakat mengelola kawasan tersebut secara bersama. Kesepakatan diperkuat melalui nota kesepahaman pada 2025 yang mengatur kerja sama perizinan penangkapan ikan.
Meski pemerintah Kenya dan Uganda masih berbeda pandangan, kehidupan warga di pulau itu justru berlangsung relatif damai.
Mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan atau pedagang ikan. Mereka berasal dari Kenya, Uganda, bahkan Tanzania, dan hidup berdampingan tanpa mempersoalkan batas negara.
Bagi mereka, keberadaan ikan jauh lebih penting daripada sengketa politik.
>>> Angel Di Maria Tolak Hadiri Final Piala Dunia 2026, Takut Bawa Sial
Di atas pulau batu yang lebih kecil dari lapangan sepak bola, ribuan orang membangun kehidupan dan membentuk komunitas unik.
