⌂ Beranda News Pawang Ular Tewas Dipatuk King Cobra, Bisanya Mematikan

Pawang Ular Tewas Dipatuk King Cobra, Bisanya Mematikan

Pawang Ular Tewas Dipatuk King Cobra, Bisanya Mematikan
Ilustrasi: Pawang Ular Tewas Dipatuk King Cobra, Bisanya Mematikan
A A Ukuran Teks16px

Ular king cobra dikenal memiliki bisa yang sangat mematikan, bahkan mampu membunuh gajah Asia dalam waktu tiga jam.

Bagi manusia, dampaknya tentu lebih fatal.

>>> Kamboja Hadapi Indonesia di Piala AFF 2026 dengan Kekuatan Baru

Di Indonesia, king cobra memiliki berbagai nama lokal seperti ular tedung, ular lanang, ular totok, dan ular tedong selor.

Taksonomi dan Morfologi King Cobra

King cobra, dengan nama ilmiah Ophiophagus hannah, termasuk dalam kerajaan Animalia, filum Chordata, kelas Reptilia, ordo Squamata, sub-ordo Serpentes, dan famili Elapidae.

Secara fisik, ular ini memiliki kepala besar dengan moncong pendek dan tumpul, pupil besar dan bundar, serta perisai labial berjumlah tujuh.

Warna tubuhnya bervariasi dari cokelat kekuningan hingga keabu-abuan di bagian atas, dengan bagian bawah berwarna keabuan atau kecokelatan.

Leher dan dada seringkali berwarna kuning cerah atau krem dengan pola belang hitam yang terlihat saat lehernya dibentangkan.

>>> Justin Hubner dan Ole Romeny Jadi Model Jersey Tandang Baru Fortuna Sittard

Sifat Mematikan Bisa King Cobra

Meskipun bisanya tidak lebih berbahaya dibandingkan ular lain, king cobra mampu menyuntikkan racun dalam jumlah besar, hingga lima kali lipat dari mamba hitam.

Bisanya bersifat neurotoksik, menyerang sistem saraf. Satu gigitan king cobra diklaim mampu menyebabkan kematian pada sepuluh orang.

Gejala yang ditimbulkan meliputi sakit hebat, gangguan penglihatan, vertigo, kelumpuhan otot, hingga kegagalan jantung dan pernapasan dalam beberapa jam.

Penyebaran dan Habitat King Cobra

Ular ini tersebar luas di Asia Selatan dan Tenggara, termasuk India, China Selatan, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaya, dan Filipina.

Di Indonesia, king cobra ditemukan di hampir seluruh wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

>>> Adopsi AI Picu Lonjakan Serangan Bot pada Transaksi Digital di Asia Pasifik

Habitatnya beragam, mulai dari hutan dataran rendah hingga ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut, mencakup gua, rawa, semak belukar, lahan pertanian, hingga area pemukiman.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM