Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain global dalam industri antariksa. Pengembangan Bandar Antariksa Biak dinilai mampu meningkatkan efisiensi peluncuran satelit dan menarik investasi.
Ketua Umum ARIKSA Adi Rahman Adiwoso menyatakan bahwa peluncuran satelit dari Biak lebih unggul dibandingkan lokasi lain. Keunggulan utamanya adalah posisi Biak yang dekat dengan garis khatulistiwa.
>>> Persebaya Surabaya Lolos ke Semifinal Piala Presiden 2026 Usai Kalahkan PSMS Medan 1-0
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi panel peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B. J.
Habibie, BRIN Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026).
Menurut Adi, kondisi geografis tersebut memungkinkan penghematan biaya peluncuran. Bahan bakar lebih sedikit dan kapasitas muatan satelit lebih besar.
"Kalau kita luncurkan dari Biak, ada perbedaan Biak dibandingkan India 100 kilogram kurangnya. Dan per kilogram itu kalau saya catat benar 25 ribu dolar.
Berarti satelit-satelit yang meluncur dari Biak akan saving-nya luar biasa besar. Saving-nya akan 5 ribu dolar per kilogram.
Kalau untuk 100 kilogram, hematnya 500.000 dolar," ujar Adi.
Selain keuntungan teknis, posisi geografis Indonesia juga berpotensi menarik investasi internasional.
Adi mengusulkan pembentukan Equatorial Alliance, wadah kerja sama negara-negara di kawasan khatulistiwa untuk memperkuat posisi dalam industri antariksa global.
>>> Bayern Munich Bidik Sukses Lebih Besar Usai Nyaris Sempurna Musim Lalu
Gagasan itu telah mendapat respons positif dari sejumlah negara.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Adis Alfiawan, menekankan pentingnya dukungan seluruh ekosistem.
Mulai dari pemerintah, akademisi, hingga sektor swasta dalam pengembangan industri antariksa.
Adis berharap Indonesia memiliki visi strategis yang mampu mendorong investasi dan mempercepat pertumbuhan industri antariksa nasional. Keberhasilan peluncuran Satelit Palapa menjadi tonggak penting pembangunan telekomunikasi Indonesia.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menyatakan posisi strategis Indonesia memberikan peluang menjadi bagian dari rantai pasok global industri antariksa.
Pengembangan platform satelit di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah dan memperkuat kemampuan industri nasional.
Heru menegaskan BRIN akan terus mendukung pengembangan ekosistem antariksa melalui riset, penguatan kapasitas nasional, penyediaan infrastruktur penelitian, serta fasilitasi kolaborasi dengan industri.
>>> Hands On Galaxy Z Fold8 Ultra: Lebih Tipis, Bertenaga, dan Punya Kamera Lebih Baik
Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan keunggulan geografisnya sebagai pusat aktivitas antariksa di kawasan khatulistiwa.

