⌂ Beranda News Sistem GPS Dibiayai AS Rp 35 Triliun per Tahun, Ini Alasannya

Sistem GPS Dibiayai AS Rp 35 Triliun per Tahun, Ini Alasannya

Sistem GPS Dibiayai AS Rp 35 Triliun per Tahun, Ini Alasannya
Ilustrasi: Sistem GPS Dibiayai AS Rp 35 Triliun per Tahun, Ini Alasannya
A A Ukuran Teks16px

>>> Singapura vs Indonesia: Siapa Lebih Baik di 5 Laga Terakhir?

Mengapa AS Terus Mendanai GPS?

Pemerintah AS terus mendanai GPS sebagai elemen vital militer, keamanan nasional, dan sistem penerbangan.

GPS diperkirakan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi AS lebih dari USD 1,4 triliun sejak 1983.

Namun, hal paling berharga dari GPS sebenarnya bukan lokasi melainkan waktu.

Setiap satelit membawa jam atom yang sangat presisi, menjadi tulang punggung bagi sinkronisasi jaringan seluler, stempel waktu transaksi keuangan, dan menjaga keseimbangan jaringan listrik.

Hilangnya GPS akan menjadi bencana besar. Riset RTI menunjukkan bahwa hilangnya sinyal GPS akan merugikan AS USD 1 miliar per hari.

Patricia Crouse, profesor ilmu politik di University of New Haven, mengatakan kerelaan AS untuk terus membayar GPS didasari oleh pertimbangan praktis.

"Meskipun Musk memiliki Starlink yang secara teori bisa menggantikan GPS, Anda tidak bisa memaksa orang menggunakan satelit swasta dengan biaya mereka sendiri," sebutnya.

Alternatif Selain GPS

Eropa memiliki sistem Galileo. China memiliki BeiDou Navigation Satellite System yang beroperasi penuh sejak 2020 dan sangat kuat di Asia.

BeiDou juga memiliki fitur untuk mengirim pesan teks pendek melalui satelit, memungkinkan komunikasi di daerah terpencil tanpa sinyal seluler.

Namun, akurasinya cenderung menurun di luar Asia dan butuh hardware khusus.

Sistem Rusia, GLONASS, awalnya dikembangkan pada era Uni Soviet. Posisi satelitnya memberikan cakupan sangat baik di daerah lintang tinggi, efektif di wilayah utara dan Arktik.

Kini, semakin banyak negara dan perusahaan mencari alternatif di luar penggunaan sistem tunggal.

>>> Messi Donasi Rp1,7 Miliar untuk Korban Kebakaran Madrid

"Berbagai produk kini ditingkatkan kemampuannya agar dapat menggunakan sistem Eropa dan Rusia juga, jika sewaktu-waktu terjadi pemblokiran sinyal," kata Andy Proctor, peneliti di Imperial College London.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM