⌂ Beranda News Dari Pekerja Pabrik hingga Guru, Begini AI Mengubah Hidup Peserta AWS Summit

Dari Pekerja Pabrik hingga Guru, Begini AI Mengubah Hidup Peserta AWS Summit

Dari Pekerja Pabrik hingga Guru, Begini AI Mengubah Hidup Peserta AWS Summit
Ilustrasi: Dari Pekerja Pabrik hingga Guru, Begini AI Mengubah Hidup Peserta AWS Summit
A A Ukuran Teks16px

Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan karier dan keterampilan.

Hal itu tercermin dari kisah peserta program pelatihan Amazon Web Services (AWS), mulai dari mantan pekerja pabrik hingga guru di daerah yang kini memanfaatkan AI dalam pekerjaannya.

>>> 5 Ajang FIFA yang Terancam Dibboikot UEFA

Sejak 2017, AWS mencatat telah membantu lebih dari 1,3 juta masyarakat Indonesia mengembangkan keterampilan cloud dan AI melalui berbagai program pelatihan, kolaborasi, dan sertifikasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS, Yashinta Bahana, dalam sesi di AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (6/8).

Yashinta menyebutkan, AWS ingin memastikan semakin banyak masyarakat Indonesia memiliki kesempatan belajar teknologi AI tanpa terkendala latar belakang maupun lokasi.

Program tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif, seperti IndonesiapandAI yang menyediakan pembelajaran mandiri mengenai cloud dan AI generatif secara gratis dalam bahasa Indonesia.

Ada pula MAIN (Mastering AI for Nation-Building) yang menjadi program akselerasi karier selama lima bulan bagi pekerja muda di Jawa Barat.

Selain itu, AWS juga menghadirkan program lain seperti AWS Terampil di Awan, AWS CendekiAwan, AWS & Dicoding Back-End Academy, AWS AI Academy, AWS re/Start, AWS Academy, AWS Educate, dan AWS Skill Builder.

Dari Pabrik ke Dunia Teknologi

Salah satu peserta yang merasakan manfaat program tersebut adalah Fajrianwar Fachrul asal Semarang.

Lulusan SMKN 7 Semarang jurusan Teknik Konstruksi Batu dan Beton itu sempat bekerja sebagai petugas quality control di perusahaan beton pracetak.

Namun saat pandemi COVID-19, kontrak kerjanya berakhir dan ia harus berhenti kuliah karena keterbatasan biaya.

Alih-alih kembali mencari pekerjaan di bidang yang sama, Fajri memutuskan beralih ke dunia teknologi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM