"Dengan kehadiran InfraNexia kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan," kata Dian.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, pembentukan InfraNexia merupakan bagian dari penataan portofolio TelkomGroup untuk membangun bisnis infrastruktur digital dengan proposisi nilai yang lebih kuat.
>>> Real Madrid dan Barcelona Berebut Rodri, Siapa yang Akan Menang?
Menurutnya, pemisahan tersebut memungkinkan optimalisasi aset sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan kemitraan strategis.
Transformasi InfraNexia tidak berhenti pada pemisahan aset. Perusahaan juga mulai mengarahkan pengembangan jaringannya untuk menghadapi kebutuhan trafik digital generasi berikutnya.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan perusahaan tengah mempercepat network modernization dan mendorong implementasi autonomous network.
"Kami optimistis penyelesaian spin-off ini semakin memperkokoh InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal," kata Lukman.
Penguatan infrastruktur tersebut akan mendukung pengembangan konektivitas untuk kebutuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia.
Dengan jaringan fiber yang mencapai sekitar 112.000 kilometer, InfraNexia memiliki basis aset yang dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi jaringan seiring pertumbuhan kebutuhan data.
Mayoritas Saham Tetap Milik Telkom
Meski InfraNexia akan beroperasi sebagai entitas yang lebih fokus, Telkom tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan lebih dari 99%.
InfraNexia tetap diarahkan untuk beroperasi secara profesional dan melayani pelanggan secara netral. Telkom Group juga memastikan proses spin-off berlangsung tanpa mengganggu layanan yang berjalan.
Langkah tersebut sekaligus mendukung strategi perusahaan plat merah ini untuk bertransformasi menuju strategic holding, dengan masing-masing entitas memiliki fokus bisnis yang lebih jelas dan diarahkan untuk menciptakan nilai.
Model pemisahan bisnis infrastruktur seperti ini sebelumnya juga telah digunakan sejumlah operator telekomunikasi global, antara lain Telstra, Telecom Italia (TIM), CETIN, Telenor, Telefónica, dan KPN.
Bagi Telkom Group, Spin-Off InfraCo Tahap 2 bukan sekadar pemindahan aset.
Langkah senilai Rp 49,9 triliun ini menjadi bagian dari upaya mengubah aset infrastruktur dalam skala besar menjadi mesin pertumbuhan baru, sekaligus memperkuat posisi Telkom dalam ekosistem konektivitas digital Indonesia.
>>> Hujan di Titan Bisa Hilang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai
Telkom memastikan seluruh proses transaksi dilakukan secara transparan dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta memenuhi ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku, termasuk aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
