⌂ Beranda News Hujan di Titan Bisa Hilang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai

Hujan di Titan Bisa Hilang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai

Hujan di Titan Bisa Hilang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai
Ilustrasi: Hujan di Titan Bisa Hilang Puluhan Tahun, Sekali Turun Langsung Badai
A A Ukuran Teks16px

Bayangkan hidup di sebuah dunia yang tidak diguyur hujan selama puluhan tahun. Namun ketika hujan akhirnya turun, yang datang bukan gerimis, melainkan badai dahsyat.

Itulah yang diduga terjadi di Titan, satelit alami terbesar Saturnus.

>>> AI Ubah Strategi Internet Indonesia, 5G Dikebut ke Pelosok

Penelitian terbaru menunjukkan wilayah khatulistiwa Titan yang selama ini dikenal sangat kering ternyata masih mengalami hujan.

Bedanya, hujan metana di sana bisa baru turun setelah puluhan tahun, lalu datang dalam bentuk hujan lebat yang terjadi di sekitar periode ekuinoks.

Titan merupakan satu-satunya benda langit selain Bumi yang diketahui memiliki siklus cuaca lengkap. Di Titan, peran air yang menguap, membentuk awan, lalu turun sebagai hujan, dimainkan oleh metana.

Dengan suhu permukaan sekitar minus 179 derajat Celsius, air membeku sekeras batu. Sebaliknya, metana dapat berada dalam bentuk cair sehingga membentuk awan, sungai, danau, hingga hujan.

Salah satu bukti hujan di Titan muncul pada September 2010 ketika wahana Cassini milik NASA mengamati wilayah khatulistiwa Titan berubah menjadi lebih gelap dalam beberapa hari.

Fenomena ini dikenal sebagai Arrow Storm.

Pengamatan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan tentang iklim Titan. Model iklim sebelumnya menunjukkan sebagian besar hujan terjadi di wilayah kutub, sementara daerah khatulistiwa hampir selalu kering.

>>> Erafone Run 2026 Sukses Padukan Trail Run dan Konser Musik di Tangkuban Perahu

Perubahan Musim Picu Hujan

Ilmuwan atmosfer Tetsuya Tokano menjelaskan bahwa hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar berkaitan dengan perubahan musim di Titan.

Curah hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar terjadi di sekitar periode ekuinoks, saat Matahari melintasi garis khatulistiwa Titan.

Sabuk hujan di Titan tidak menetap di satu tempat, melainkan bergerak dari kutub selatan ke kutub utara.

Satu tahun di Titan setara dengan sekitar 29,5 tahun di Bumi, sehingga perubahan musim berlangsung sangat lambat.

Akibatnya, sebagian wilayah dapat menunggu puluhan tahun sebelum kembali diguyur hujan.

Meski jarang, badai metana yang terjadi diperkirakan cukup kuat untuk membentuk bentang alam Titan, termasuk lembah sungai dan pola erosi yang terlihat dari hasil pengamatan wahana Cassini.

>>> Van Dijk Sambut Potensi Kedatangan Araujo di Liverpool

Temuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana lanskap satelit Saturnus tersebut terus berubah meski hujan turun sangat jarang.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM