Fenomena aneh berupa garis-garis gelap dan terang yang bergerak cepat di permukaan, menyerupai bayangan ular, dapat muncul sesaat sebelum dan sesudah Gerhana Matahari Total.
Fenomena yang dikenal sebagai shadow bands ini telah diamati selama berabad-abad, namun penyebab pastinya masih menjadi misteri bagi para ilmuwan.
>>> Aston Villa Yakin Bisa Tandingi Kekuatan PSG di Piala Super Eropa
Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 menjadi kesempatan baru bagi peneliti untuk mengamati fenomena ini lebih dalam.
Jalur totalitas gerhana akan melintasi Islandia, Greenland, Rusia utara, Spanyol, dan Portugal.
Muncul Saat Matahari Hampir Tertutup
Shadow bands biasanya terlihat ketika Matahari hampir sepenuhnya tertutup oleh Bulan, menyisakan hanya sabit cahaya yang sangat tipis.
Pola garis-garis ini dapat bergerak dan bergelombang di permukaan terang, meskipun seringkali samar dan sulit ditangkap kamera.
David Turnshek, seorang profesor fisika dan astronomi, pertama kali mengamati fenomena ini saat remaja.
Pengalaman tersebut memicu rasa ingin tahunya yang berlanjut hingga kini, meskipun fokus penelitian utamanya berbeda.
Penjelasan paling umum menyebut turbulensi atmosfer sebagai penyebab shadow bands. Aliran udara yang tidak beraturan di atmosfer membelokkan cahaya Matahari, mirip dengan efek bintang berkelap-kelip.
Namun, kondisi ini menjadi lebih terlihat saat hanya tersisa sedikit cahaya Matahari.
Eksperimen dan Teori Baru
Sebuah eksperimen pada Gerhana Matahari Total 2017 di Amerika Serikat menguji teori turbulensi. Tim peneliti memasang sensor cahaya di permukaan tanah dan pada balon di ketinggian 25 kilometer.
Hasilnya mengejutkan, sinyal shadow bands terdeteksi di kedua lokasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa teori turbulensi atmosfer mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan fenomena shadow bands. Hal ini memunculkan kemungkinan mekanisme lain, seperti difraksi dan interferensi cahaya.
>>> Matthias Jaissle Cemas dengan Perlakuan Wasit Premier League
