⌂ Beranda News Penyiksaan Burung Hantu di NTT Picu Kecaman, Perannya Penting bagi Lingkungan
News

Penyiksaan Burung Hantu di NTT Picu Kecaman, Perannya Penting bagi Lingkungan

Penyiksaan Burung Hantu di NTT Picu Kecaman, Perannya Penting bagi Lingkungan
Penyiksaan Burung Hantu di NTT Picu Kecaman, Perannya Penting bagi Lingkungan
A A Ukuran Teks16px

Tiga pria di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ditangkap polisi setelah menyiksa dan membakar hidup-hidup seekor burung hantu.

Peristiwa yang terjadi pada 7 Agustus 2026 ini viral di media sosial dan menuai kecaman.

>>> Cesc Fabregas Kembali ke Arsenal, Rasakan Aura Berbeda dan Puji Proyek Klub

Kasus ini bermula ketika salah satu pelaku melihat burung hantu bertengger di tiang dapur. Burung tersebut kemudian ditangkap menggunakan tangan kosong dan dibawa ke depan sebuah kios.

Di sana, burung hantu itu disiksa sebelum dibakar dalam kondisi masih hidup. Aksi tersebut direkam menggunakan telepon genggam.

Ketiga pelaku kini ditahan di Polres Manggarai Barat untuk menjalani proses hukum.

Peran Krusial Burung Hantu dalam Ekosistem

Burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama sebagai predator alami hewan pengerat. Hewan ini aktif berburu pada malam hari, dan salah satu mangsa utamanya adalah tikus.

Contohnya adalah Serak Jawa (Barn Owl), spesies burung hantu yang adaptif terhadap iklim tropis dan tidak agresif terhadap manusia.

Kemampuannya memangsa tikus dalam jumlah signifikan menjadikannya alat pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Keberadaan burung hantu di sekitar lahan pertanian sangat menguntungkan petani karena tikus dapat menyebabkan kerugian besar pada tanaman pangan dan mengancam hasil panen.

Pemanfaatan burung hantu merupakan bagian dari pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang mengandalkan musuh alami hama alih-alih hanya pestisida.

Keterbatasan dan Konservasi Burung Hantu

Meskipun memiliki kemampuan berburu yang mumpuni, burung hantu tidak dapat sendirian mengatasi ledakan populasi tikus.

>>> Tijjani Reijnders Dikabarkan Merapat ke Al Qadsiah di Arab Saudi

Peneliti Ahli Madya BRIN, Yudhistira Nugraha, menyatakan bahwa predator alami tidak cukup efektif saat terjadi outbreak tikus.

Strategi pengendalian hama harus komprehensif, menggabungkan metode mekanik seperti grobyokan dan pengemposan sarang, serta sistem trap barrier sebagai tindakan preventif.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM