⌂ Beranda News GSMA Soroti Kesenjangan Penggunaan Internet dan Faktor Keamanan
News

GSMA Soroti Kesenjangan Penggunaan Internet dan Faktor Keamanan

GSMA Soroti Kesenjangan Penggunaan Internet dan Faktor Keamanan
GSMA Soroti Kesenjangan Penggunaan Internet dan Faktor Keamanan
A A Ukuran Teks16px

Pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi di Indonesia kini menyisakan pekerjaan rumah baru yang tidak kalah penting.

Berdasarkan estimasi GSMA, cakupan internet seluler di tanah air telah mencapai 98 persen dari total populasi.

>>> Relawan atasi teror ular liar pascabanjir bandang di wilayah China

Namun, sekitar 77 persen orang dewasa Indonesia saja yang tercatat sudah menggunakan layanan mobile internet.

Sementara itu, tingkat penetrasi smartphone di dalam negeri saat ini berada di kisaran 59 persen dari jumlah penduduk.

Kesenjangan Penggunaan Menjadi Aset Ekonomi Terbengkalai

Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman menilai fenomena ini sebagai aset ekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Ekonomi digital di kawasan ini tercatat tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan sektor ekonomi fisik secara umum.

Potensi pertumbuhan tersebut menuntut lebih banyak masyarakat agar terhubung dan aktif memakai layanan digital.

Konektivitas juga memegang peranan krusial dalam mitigasi bencana serta penyampaian informasi darurat di wilayah terpencil.

>>> Target Asian Games 2026, Tim Tenis Meja Incar Babak Delapan Besar

Pemerintah dan industri perlu mengatasi berbagai hambatan seperti harga perangkat hingga tingkat literasi digital.

Faktor kepercayaan masyarakat menjadi sorotan seiring meningkatnya persentase konsumen ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban scam.

Laporan GSMA menunjukkan korban penipuan online meningkat dari 31 persen pada tahun 2024 menjadi 45 persen pada 2025.

Jeanette Whyte selaku Head of Public Affairs and External Affairs APAC GSMA menyebut persoalan ini sangat mendesak.

Masyarakat yang belum berpartisipasi dalam ekonomi digital terancam semakin tertinggal dari perkembangan zaman.

Layanan seluler di Asia Pasifik sendiri menghasilkan sekitar USD1 triliun dan diproyeksikan naik menjadi USD1,4 triliun pada 2030.

>>> Mourinho Sebut Skuad Real Madrid Musim Ini Sempurna Tanpa Celah

Teknologi seluler dan pembayaran digital seperti QRIS kini semakin diandalkan oleh pelaku usaha mikro dan kecil.

📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM