Perkembangan kecerdasan buatan seringkali memicu kekhawatiran bahwa peran manusia akan sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Namun, diskusi bertajuk 'The Future Is Undeniably Human' dalam ajang Ideafest 2026 di Jakarta menegaskan pentingnya faktor manusia.
CEO Comika Pandji Pragiwaksono menyatakan bahwa setiap gelombang inovasi teknologi selalu menghadirkan kecemasan tersendiri.
Di sisi lain, Founder Narasi Najwa Shihab menyoroti tantangan berupa ketergantungan manusia yang dapat menggerus kemampuan berpikir kritis.
Menurut Najwa, kemampuan bertanya secara kritis jauh lebih berharga daripada sekadar menerima instan jawaban dari mesin.
Ia menilai kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai rekan berpikir untuk melatih manusia berpikir lebih keras.
Terdapat tiga hal mendasar yang tidak boleh diserahkan kepada mesin yaitu nilai, pertimbangan, dan tanggung jawab.
Peran Strategis Teknologi dan Hati Nurani
President Director and CEO of Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha berpendapat bahwa teknologi hadir untuk membuka potensi manusia.
Ia mencontohkan bagaimana teknologi mampu menyetarakan akses layanan kesehatan bagi dokter di pelosok negeri.
Meskipun mesin mampu menandingi kepintaran, perangkat tersebut tetap tidak memiliki hati nurani.
Indosat mengusung slogan 'Heartware Inside Hardware' dalam acara tersebut untuk menekankan pentingnya unsur kemanusiaan.
Teknologi perlu dimanfaatkan secara produktif serta didemokratisasi agar dapat diakses oleh masyarakat luas.