Erupsi Gunung Anak Krakatau memunculkan fenomena sekunder berupa kilatan listrik yang dikenal sebagai petir vulkanik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi adanya gangguan geomagnetik seiring peningkatan sambaran petir vulkanik.
Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat aktivitas tersebut pada rentang waktu 12 jam pemantauan.
Proses Pembentukan Petir Vulkanik
Petir vulkanik terbentuk ketika terjadi pelepasan muatan listrik di dalam kolom erupsi gunung api.
Magma yang keluar dengan kuat terpecah menjadi partikel sangat kecil dan bercampur dengan gas serta batuan.
Partikel tersebut bergerak cepat dan saling bertumbukan hingga memicu pemisahan muatan listrik.
Perbedaan muatan yang cukup besar akhirnya menghasilkan loncatan listrik berupa kilatan petir.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan fenomena serupa juga pernah terjadi saat erupsi Gunung Ruang.
Sumber energi petir vulkanik berbeda dari petir biasa karena berkaitan langsung dengan material serta gas erupsi.
BMKG memantau aktivitas tersebut menggunakan lightning detector dan sensor magnet bumi secara terus-menerus.
Meski demikian, intensitas gangguan yang terdeteksi tidak lebih besar dibanding letusan awal pada 4 September.
Badan Geologi melaporkan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
