Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan pertumbuhan fisik usai sebagian tubuhnya runtuh dan memicu tsunami pada 2018 silam.
Kendati demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa kondisi Anak Krakatau saat ini sudah tidak lagi sama seperti sebelum peristiwa tersebut.
Perubahan bentuk tubuh gunung api ini terlihat jelas dari pola pertumbuhannya yang berlainan setelah tragedi keruntuhan terjadi.
Perubahan Bentuk dan Diameter Pulau
Profesor Sebastian Watt dari University of Birmingham menjelaskan bahwa tinggi tubuh Anak Krakatau pada 2023 masih lebih rendah.
Meskipun demikian, diameter pulau tersebut kini justru tercatat jauh lebih lebar daripada kondisi sebelum runtuh.
Struktur baru ini terbentuk melalui proses akumulasi material vulkanik pasca-keruntuhan yang membangun ulang tubuh gunung api.
Perubahan bentuk tersebut membuat para peneliti harus menilai ulang aktivitas gunung api ini secara lebih cermat.
Sejarah pertumbuhan sebelum 2018 tetap menjadi petunjuk penting untuk memahami potensi aktivitas vulkanik di masa depan.
