Tambahan spektrum ini semakin penting ketika jumlah pengguna 5G dan konsumsi data terus meningkat.
Kapasitas tambahan memberi ruang bagi operator untuk melayani lebih banyak pengguna tanpa membiarkan kepadatan trafik menggerus pengalaman jaringan secara signifikan.
Jika menggunakan data pengalaman pengguna Opensignal pada Desember 2025, 5G Telkomsel mencatat 76,7 Mbps untuk kecepatan unduh.
Di sisi unggah, Telkomsel mencatat 24,4 Mbps.
Pengalaman 5G Telkomsel juga berbeda-beda antarwilayah.
Dalam laporan yang sama, 5G Download Speed Telkomsel mencapai 82,5 Mbps di Jakarta, 81,9 Mbps di Jawa Barat, 79,3 Mbps di Jawa Timur, 82,4 Mbps di Banten, dan 62,8 Mbps di Jawa Tengah.
Sementara di Yogyakarta tercatat 48,9 Mbps.
Perbedaan ini memperlihatkan lokasi tetap menjadi faktor penting.
Ketersediaan spektrum, kapasitas site, kondisi radio, perangkat pengguna, serta kepadatan trafik dapat membuat pengalaman 5G berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Bagi pengguna, angka unduh tinggi memang menarik.
Namun, pengalaman menggunakan 5G tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat sebuah file dapat diunduh.
Opensignal juga mengukur berbagai aspek pengalaman jaringan.
Dalam laporan Desember 2025, Telkomsel memimpin 5G Video Experience dengan skor 74,4, 5G Games Experience dengan 88,9, serta 5G Upload Speed sebesar 24,4 Mbps.
Telkomsel juga memenangkan 5G Availability dengan skor 19%.
Telkomsel kemudian mengumumkan pada Maret 2026 bahwa perusahaan meraih 11 penghargaan Opensignal berdasarkan analisis pengalaman nyata jutaan pengguna.
Pengukuran tersebut mencakup kecepatan, kualitas video dan gaming, cakupan, availability, serta konsistensi jaringan 4G dan 5G.
Dengan kondisi itu, perkembangan 5G Telkomsel sekarang lebih tepat dilihat sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kecepatan, kapasitas, cakupan, dan konsistensi.
Sebab, jaringan yang mampu mencapai kecepatan tinggi di satu titik belum tentu memberikan pengalaman yang sama ketika jumlah pengguna meningkat atau trafik sedang padat.