⌂ Beranda News Fenomena Sell Indonesia: Tekanan Rupiah dan IHSG Jadi Sinyal Kepercayaan Global

Fenomena Sell Indonesia: Tekanan Rupiah dan IHSG Jadi Sinyal Kepercayaan Global

Fenomena Sell Indonesia: Tekanan Rupiah dan IHSG Jadi Sinyal Kepercayaan Global
Grafik penurunan rupiah dan IHSG
A A Ukuran Teks16px

Dalam ekonomi global, daya tarik suatu negara tidak hanya berasal dari budaya atau nilai-nilai yang dimilikinya, tetapi juga dari kredibilitas kebijakannya.

Investor menanamkan modal bukan hanya karena potensi keuntungan, melainkan karena percaya bahwa aturan main akan konsisten, transparan, dan dapat diprediksi.

Ketika kepercayaan mulai terkikis, biaya ekonomi menjadi lebih mahal. Premi risiko meningkat, biaya pinjaman bertambah, dan arus modal cenderung melambat.

Dengan kata lain, krisis kepercayaan pada akhirnya akan berubah menjadi biaya ekonomi yang nyata.

Dimensi Domestik dan Global

Fenomena "Sell Indonesia" juga menunjukkan relevansi konsep intermestik yang berkembang dalam studi Hubungan Internasional Indonesia.

Kebijakan domestik kini tidak hanya dinilai oleh masyarakat di dalam negeri, tetapi juga oleh pasar keuangan global.

Program pembangunan, tata kelola BUMN, disiplin fiskal, kebijakan investasi, hingga komunikasi pemerintah terhadap pelaku pasar menjadi bagian dari penilaian internasional terhadap Indonesia.

Dalam dunia yang terhubung, hampir tidak ada lagi kebijakan ekonomi yang sepenuhnya bersifat domestik.

Keputusan yang diambil di Jakarta dapat memengaruhi keputusan investasi di Singapura, London, New York, maupun Tokyo.

Dari perspektif realisme, perilaku investor sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perilaku negara. Keduanya berusaha memaksimalkan kepentingan dan meminimalkan risiko.

Dalam tradisi pemikiran realisme dikenal ungkapan bahwa tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Logika yang sama berlaku di pasar keuangan.

>>> Portugal Siagakan Ratusan Polisi di Bandara Antisipasi Antrean Wisatawan

Investor asing tidak berinvestasi karena simpati terhadap Indonesia. Mereka datang karena melihat peluang keuntungan.

Ketika risiko dianggap meningkat, modal akan berpindah ke negara lain yang menawarkan kombinasi risiko dan imbal hasil yang lebih menarik.

Karena itu, menyalahkan investor atau menganggap pasar tidak patriotik bukanlah solusi. Pasar hanya menjalankan logika dasarnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM