Kayamba juga kayak gitu," kenangnya.
"Begitu saya dapat bola, dia sudah tahu mau ngapain. Terus Kayamba juga gitu, yang lain juga gitu."
Kedekatan itu juga memicu momen jenaka. Ponaryo sering bercanda menegur Firman Utina yang terlalu turun ke lini belakang.
"Sampai Firman sering billing, kalau dia jemput bola ke bawah itu saya sering marah. 'Eh, ngapain sampai ke bawah-bawah sini?
Enggak ada kerjaan apa di depan. Tunggu aja di depan, entar bola ke sana sendiri'," cerita Ponaryo sambil tertawa.
Ia menilai keindahan permainan Sriwijaya FC saat itu bukan sekadar trofi. Nilai berharga adalah bagaimana tim mampu memperagakan sepak bola yang mengalir indah.
"Bermain sebagai satu tim dengan pemain-pemain seperti itu memang menimbulkan excitement yang oke, yang susah dibilang, tapi kayak kita main ya main aja, ngalir aja gitu loh," pungkasnya.
>>> Timnas Indonesia U-19 Targetkan Kemenangan atas Vietnam demi Tiket Semifinal
"Itu yang memperingan kerja masing-masing pemain dan masing-masing lini karena chemistry yang sudah sangat-sangat terjalin."
