⌂ Beranda News BRIN Deteksi Sinyal Awal Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan

BRIN Deteksi Sinyal Awal Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan

BRIN Deteksi Sinyal Awal Upwelling Musim Timur 2026 di Perairan Selatan
Citra satelit menunjukkan suhu permukaan laut di perairan selatan Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi sinyal awal fenomena upwelling musim timur 2026 di sejumlah perairan selatan Indonesia.

Temuan ini didasarkan pada analisis parameter oseanografi untuk periode 1 hingga 7 Juni 2026.

>>> Timnas Indonesia U-19 Lolos Semifinal Piala AFF Usai Kalahkan Vietnam

Proses naiknya massa air laut dari lapisan dalam yang kaya nutrien ke permukaan terdeteksi dengan intensitas lemah sampai sedang.

Fenomena ini menjadi indikator awal peningkatan produktivitas perairan yang berpotensi mendukung ketersediaan sumber daya perikanan nasional.

Wilayah Terdeteksi dan Parameter

Wilayah yang menunjukkan tanda awal upwelling meliputi Samudera Hindia di selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Timor, dan Laut Sawu.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan bahwa sinyal awal keaktifan upwelling mulai terlihat, namun intensitasnya masih lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial.

Parameter yang diamati meliputi penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, arus vertikal ke atas, dan kenaikan konsentrasi klorofil.

Perpaduan faktor tersebut mengindikasikan massa air kaya nutrien mulai terangkat ke permukaan, memicu pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut.

Zona Lain dengan Produktivitas Tinggi

BRIN juga memetakan lonjakan produktivitas di Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, serta selatan Selat Makassar menuju Laut Flores.

>>> Raymond dan Joaquin Raih Runner Up Indonesia Open 2026

Namun, mekanisme di wilayah tersebut tidak semuanya tergolong upwelling pantai klasik. Di Laut Arafura, faktor pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut di perairan dangkal menjadi pendorong.

Sementara di barat Sumatra hingga Laut Andaman, kenaikan klorofil dipicu oleh interaksi front oseanografi, pusaran arus, dan pengaruh dari Teluk Benggala.

Di selatan Selat Makassar, pergerakan vertikal lokal berkaitan dengan interaksi Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), topografi dasar laut, tidal pump, eddy, dan gelombang internal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM