Maka, ketika pemerintah berbicara tentang stabilitas, tidak sedikit publik yang justru bertanya apakah stabilitas itu benar-benar terasa dalam hidup mereka.
Karena itu, kesehatan ekonomi tidak bisa hanya dibaca dari data agregat. PDB dapat tumbuh, inflasi bisa rendah, dan disiplin fiskal tetap terjaga.
Namun semua itu belum tentu menjawab pertanyaan yang sesungguhnya hidup di kepala publik.
Apakah hidup terasa lebih ringan, apakah mencari kerja masih masuk akal, apakah usaha kecil punya ruang untuk tumbuh, apakah biaya hidup masih sepadan dengan pendapatan?
Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, rasa aman publik akan selalu tertinggal di belakang angka-angka resmi.
Itulah sebabnya kepercayaan selalu lebih rumit daripada stabilitas. Stabilitas bisa dijaga dengan kebijakan.
Kepercayaan, sebaliknya, tumbuh dari pengalaman yang berulang.
Ia lahir ketika orang merasa bahwa arah ekonomi dapat diperkirakan, bahwa kebijakan tidak berhenti pada pernyataan, dan bahwa perbaikan memang menyentuh kehidupan yang nyata.
Tanpa itu, fundamental yang kuat pun bisa terasa jauh.
Dalam keadaan seperti itu, yang melemah bukan hanya keberanian untuk mengambil risiko, tetapi juga daya imajinasi tentang masa depan.
Orang tidak berhenti bergerak hanya karena angka ekonomi memburuk.
Orang juga berhenti ketika mereka tidak lagi cukup yakin bahwa langkah hari ini akan membawa hasil yang lebih baik esok hari.
Di titik inilah persoalan kepercayaan menjadi penting.
Sebab perekonomian pada akhirnya bukan semata soal transaksi, melainkan juga soal harapan yang membuat orang bersedia melangkah. Tentu, tekanan yang terjadi tidak seluruhnya lahir dari dalam negeri.
Gejolak global, arus modal, dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi bagian dari penjelasannya. Namun banyak negara berkembang lain juga menghadapi tekanan serupa tanpa mengalami sentimen sekeras ini.
Karena itu, yang sedang dihadapi Indonesia tampaknya bukan hanya tekanan eksternal, melainkan juga persoalan yang lebih spesifik.
