Pasar mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi karena merasa arah kebijakan semakin sulit dibaca.
Di sinilah isu kredibilitas menjadi penting, sebab fundamental yang baik tidak selalu cukup ketika keterbacaan dan konsistensi mulai diragukan.
>>> Meta Luncurkan Meta Business Agent, Asisten AI untuk Otomatisasi Layanan Pelanggan
Dalam perspektif behavioral economics, keadaan seperti ini bukan hal yang aneh.
Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa orang cenderung lebih peka terhadap ancaman kerugian daripada peluang keuntungan yang nilainya setara.
Karena itu, sentimen negatif sering bergerak lebih cepat daripada kabar baik.
Penjelasan George Akerlof dan Robert Shiller tentang animal spirits juga membantu memahami bahwa keputusan ekonomi tidak lahir dari data semata.
Keputusan ekonomi juga lahir dari rasa percaya, rasa takut, dan cerita yang beredar.
Jauh sebelumnya, John Maynard Keynes pun telah mengingatkan bahwa banyak keputusan penting dibuat di tengah ketidakpastian, bukan dalam situasi yang sepenuhnya pasti.
Dari sini, dapat dipahami mengapa masyarakat dan pasar memilih menahan diri.
Bahkan ketika indikator makro belum menunjukkan kerusakan yang mendasar. Karena itu, memulihkan kepercayaan tidak bisa dipahami sebagai urusan komunikasi semata.
Ia menuntut kesesuaian antara apa yang dikatakan negara, apa yang dijalankan kebijakan, dan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Tanpa kesesuaian itu, optimisme akan selalu terdengar sebagai imbauan yang datang dari atas.
Bukan sebagai keyakinan yang tumbuh dari pengalaman bersama. Respons terhadap situasi ini tidak cukup jika hanya berupa penegasan bahwa ekonomi tetap baik-baik saja.
Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui jarak antara statistik dan kenyataan.
Lalu menjembataninya dengan arah yang jelas.
Indonesia membutuhkan ekonomi yang bukan hanya stabil di tingkat makro, tetapi juga terasa meyakinkan di tingkat rumah tangga dan dunia usaha.
