Langkah awal yang terbukti efektif meliputi otomatisasi layanan pelanggan via chatbot, digitalisasi pemrosesan dokumen seperti invoice, serta pemanfaatan analitik untuk mendukung keputusan strategis.
"Mulai dari yang dampaknya jelas dan bisa diukur. Jangan langsung membayangkan AI yang rumit.
Satu masalah yang selesai dengan baik jauh lebih berharga daripada sepuluh ide yang tidak pernah terwujud," katanya.
Lima Poin Penting Sebelum Adopsi AI
Untuk meminimalkan risiko kerugian investasi, Didit menekankan lima aspek krusial sejak fase perencanaan. Pertama, menetapkan masalah konkret serta indikator keberhasilan yang terukur.
>>> IHSG Melonjak 7,57% ke 5.746,64, Akhiri Tren Pelemahan
Kedua, memastikan ketersediaan data internal yang rapi dan mudah diakses sebagai pilar utama AI. Ketiga, memilih use case yang berdampak nyata, bukan sekadar mengikuti tren pasar.
Keempat, menyusun alokasi anggaran secara bertahap yang dimulai dari proyek percontohan skala kecil. Kelima, mempersiapkan serta melibatkan tim internal karena integrasi AI mengubah pola kerja.
Faktor anggaran sering menjadi batu sandungan.
Implementasi proyek AI berskala pilot untuk satu use case spesifik umumnya memerlukan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Sementara itu, penerapan AI tingkat enterprise yang terintegrasi penuh dengan core system perusahaan dapat menelan dana ratusan juta hingga di atas satu miliar rupiah, tergantung kustomisasi dan kompleksitasnya.
Menurut Didit, proyeksi pendanaan tersebut harus dipandang sebagai investasi berkelanjutan, bukan beban biaya tunggal. "Tidak perlu langsung besar.
Justru lebih aman mulai dari proyek kecil untuk membuktikan nilainya, baru diperbesar setelah terbukti berhasil. Dengan begitu risikonya terukur," paparnya.
Kunci keberhasilan investasi ini terletak pada penetapan target yang akurat sejak awal serta komitmen untuk tidak tergesa-gesa melakukan ekspansi skala besar.
Melalui proyek percontohan kecil, manajemen dapat menguji efektivitas solusi digital sebelum mengucurkan dana lebih besar.