Sepanjang periode 1986-2024, nilai tukar rupiah melemah sekitar 1.136 persen terhadap dolar AS, jauh lebih dalam dibanding ringgit Malaysia, peso Filipina, maupun baht Thailand.
Perbandingan dengan Krisis 1998
Pelemahan rupiah hingga menembus rekor terendah memunculkan pertanyaan apakah Indonesia menuju situasi seperti krisis moneter 1997-1998.
Menurut CORE, pelemahan saat ini memang melampaui level nominal masa krisis, tetapi karakter pergerakannya berbeda.
Pada 1997-1998, nilai tukar jatuh sangat cepat dengan volatilitas ekstrem. Sebaliknya, pelemahan sejak 2023 hingga 2026 berlangsung lebih bertahap dan relatif terkendali.
CORE menyebut institusi makroekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat.
Namun, pelemahan tetap perlu diwaspadai karena berkaitan dengan tata kelola kebijakan, kredibilitas fiskal, serta ketergantungan pada modal asing dan impor.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Dolar AS
CORE menyimpulkan pelemahan rupiah tidak disebabkan satu faktor tunggal.
Tekanan datang dari lonjakan harga energi global, keluarnya modal asing, ketidakpastian kebijakan domestik, hingga masalah struktural neraca pembayaran.
Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan BI melalui kenaikan suku bunga atau intervensi pasar.
Pemulihan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi dan perbaikan fundamental menjadi kunci mengurangi kerentanan rupiah terhadap gejolak global.
>>> Analisis Al Jazeera Unggulkan Perancis Raih Juara Piala Dunia 2026
Dalam jangka panjang, tantangan terbesar adalah memperkuat struktur neraca pembayaran, mengurangi ketergantungan pada komoditas primer, memperdalam pasar keuangan domestik, serta menekan defisit pendapatan primer.
