Upaya ini dapat ditempuh melalui mobilisasi penerimaan domestik, efisiensi belanja publik, perbaikan pengelolaan utang, serta skema pertukaran utang untuk pembangunan.
Kajian kedua memaparkan tantangan kebijakan fiskal yang dihadapi negara berkembang eksportir komoditas akibat gangguan pasar.
Sejak tahun 2000, posisi fiskal kelompok negara ini umumnya lebih lemah dibandingkan negara berkembang lainnya karena fluktuasi pendapatan yang tinggi.
Kenaikan harga komoditas sebesar 1 persen tercatat meningkatkan pendapatan dan belanja primer negara eksportir komoditas sekitar 0,4 persen dalam periode lima tahun.
Data ini menunjukkan bahwa tambahan pendapatan dari kenaikan harga cenderung langsung dibelanjakan secara bertahap daripada disimpan.
Dinamika fiskal berbeda antarjenis komoditas. Negara pengekspor energi dan logam mencatat perbaikan saldo primer saat harga naik sehingga rasio utang turun.
Sebaliknya, negara pengekspor komoditas pertanian cenderung meningkatkan belanja saat harga naik, memicu akumulasi utang yang lebih bertahan lama.
Instrumen seperti dana kekayaan negara (SWF) dan aturan fiskal hanya memberikan perlindungan terbatas ketika tekanan belanja meningkat setelah guncangan harga.
>>> IHSG Menguat ke Level 5.900 pada Pembukaan Perdagangan
Bank Dunia menekankan pentingnya pendekatan terpadu yang mencakup aturan fiskal kredibel, pengelolaan SWF yang baik, dewan fiskal independen, dan institusi yang kuat.
