⌂ Beranda News Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan
Grafik IHSG anjlok
A A Ukuran Teks16px

Bahkan di dalam negeri, kepanikan itu tidak merata. Telkom berencana membeli kembali sahamnya senilai Rp 4 triliun karena menilai harganya sudah tidak masuk akal.

Mereka yang paling tahu isi rumah ini justru sedang belanja, bukan ikut keluar.

Sejarah pun memberi konteks yang menenangkan. Krisis 1998 dan guncangan 2008 dulu juga melahirkan ramalan-ramalan kejatuhan Indonesia.

Ramalan itu tidak terbukti, meski pelajaran dari masa itu sayangnya tidak selalu kita rawat.

Yang membedakan krisis dulu dan kegelisahan sekarang adalah sumbernya. Dulu kita dihantam dari luar, oleh penularan krisis kawasan dan keuangan global.

Kali ini sebagian besar keraguan justru lahir dari kebijakan kita sendiri, dan itu kabar baik yang menyamar, sebab apa yang kita rusak sendiri bisa kita perbaiki sendiri.

Arus modal asing, jika dilihat lebih panjang, memang bersifat musiman. Ia pergi saat sentimen memburuk dan kembali saat imbal hasil terlihat menggiurkan lagi.

Mereka yang hari ini menulis "Sell Indonesia" bisa jadi sedang menyiapkan laporan "Buy Indonesia" untuk kuartal yang akan datang.

Maka dua hal ini benar pada saat yang sama.

Narasi "Sell Indonesia" terlalu dramatis untuk ukuran fundamental kita, dan kebijakan pemerintah memang memberi bahan bagi drama itu.

Membantah yang pertama tanpa membenahi yang kedua hanya akan memperpanjang ceritanya.

Posisi semacam ini memang tidak nyaman bagi siapa pun. Pendukung pemerintah akan membaca tulisan ini sebagai serangan, dan pengkritiknya akan membacanya sebagai pembelaan.

Tidak apa-apa, sebab kolom opini memang bukan tempat untuk menyenangkan semua orang.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Pertama, jelaskan tuntas arah kebijakan ekspor komoditas itu, lengkap dengan batas dan jangka waktunya.

Investor bisa hidup dengan kebijakan yang tidak mereka sukai, tetapi tidak bisa hidup dengan kebijakan yang tidak mereka pahami.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM