Kedua, jaga independensi Bank Indonesia dan perjelas tata kelola Danantara.
Keduanya kini menjadi semacam termometer, dipakai investor untuk mengukur seberapa jauh negara mau masuk ke wilayah yang seharusnya steril.
Selama termometer itu menunjukkan angka yang meragukan, diskon atas aset Indonesia akan terus berlaku.
Ketiga, ubah cara menjawab pasar. Kurangi bantahan, perbanyak data dan penjelasan.
Pejabat yang terlalu sering berkata semuanya baik-baik saja lama-lama hanya dipercaya oleh sesama pejabat. Telkom sudah memberi contoh kecil bagaimana kepercayaan dibangun tanpa banyak retorika.
Mereka tidak menggelar konferensi pers untuk memarahi analis asing. Mereka mengeluarkan Rp 4 triliun, dan pasar mengerti bahasa semacam itu jauh lebih cepat daripada bahasa pidato.
Keempat, rawat kekuatan domestik yang selama ini menopang kita.
Pasar dalam negeri yang besar adalah alasan utama modal asing dulu datang, dan alasan yang sama yang akan membuat mereka kembali.
Negara yang ekonomi domestiknya sehat tidak perlu mengemis kepercayaan, ia tinggal menunggu kepercayaan itu pulang.
Reformasi semacam ini memang tidak akan jadi berita utama. Ia sunyi, teknis, dan jarang dipuji.
Ironinya, justru pekerjaan sunyi seperti inilah yang menentukan apakah modal kembali dalam hitungan bulan atau hitungan tahun.
Pada akhirnya, kalimat "Indonesia is not for sale" itu benar adanya. Negeri ini tidak dijual, tanahnya tidak berpindah tangan, kedaulatannya utuh.
Yang sedang ditawar murah adalah kepercayaan terhadap pengelolanya, dan itu perkara yang sepenuhnya bisa kita perbaiki sendiri.
Jadi tidak perlu marah kepada mereka yang menulis "Sell Indonesia". Cukup buat mereka salah, dengan kebijakan yang konsisten dan lembaga yang dibiarkan bekerja.
>>> Debut Bersejarah Tanjung Verde: Hadapi Spanyol di Laga Perdana Grup H Piala Dunia 2026
Sebab bantahan paling meyakinkan terhadap laporan riset bukanlah konferensi pers, melainkan angka kuartal berikutnya.
