Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan damai baru dengan Iran pada Minggu malam.
Kesepakatan berupa nota kesepahaman (MOU) itu bertujuan menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz selama 60 hari masa negosiasi.
>>> Stres Akibat Hubungan Toksik Percepat Penuaan Biologis Sel Tubuh
Dokumen tersebut dijadwalkan akan ditandatangani oleh Wakil Presiden AS JD Vance di Jenewa, Swiss pada Jumat pekan ini.
Langkah ini memicu perdebatan sengit terkait perbandingannya dengan kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) era Presiden Barack Obama tahun 2015 yang sebelumnya dibatalkan oleh Trump.
Melalui panggilan telepon, Trump memberikan penjelasan mengenai perbedaan mendasar antara nota kesepahaman yang baru dirumuskannya dengan kesepakatan sebelumnya.
"Itu adalah jalan menuju senjata nuklir dan milik kita adalah dinding yang menentang senjata nuklir dalam arti kata yang sebenarnya," kata Trump.
Trump juga menyatakan ketidaksukaannya terhadap dokumen kesepakatan masa lalu saat melakukan kunjungan kerja bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron.
"Ini tidak seperti dokumen Obama, yang merupakan dokumen yang sangat buruk," ujarnya.
Ia menegaskan kembali komitmennya untuk memastikan transparansi atas hasil kesepakatan terbaru. "Ini adalah dokumen yang sangat kuat, dan saya ingin dokumen ini dirilis.
Jadi mungkin segera," kata Trump.
Tanggapan Obama dan Rincian Teknis
Pernyataan Trump langsung mendapat tanggapan dari mantan Presiden Barack Obama. Obama meragukan adanya peningkatan kualitas yang signifikan dari kesepakatan baru ini.
"Sangat diragukan bahwa kesepakatan apa pun yang muncul akan berbeda secara signifikan atau merupakan peningkatan signifikan dari kesepakatan yang kita miliki pertama kali," kata Obama.
>>> Polri Beri Dispensasi Perpanjangan SIM Mati Tanpa Bikin Baru
Obama kemudian memberikan kritik mendalam mengenai pendekatan diplomasi luar negeri agresif yang kerap diterapkan oleh penerusnya.
