Berinteraksi dengan orang yang terus-menerus memicu konflik dan menguras emosi ternyata tidak hanya merugikan kesehatan mental, tetapi juga fisik.
Stres kronis akibat hubungan toksik terbukti mampu mempercepat penuaan biologis pada sel-sel tubuh, demikian temuan penelitian yang dipublikasikan di jurnal PNAS.
>>> Polri Beri Dispensasi Perpanjangan SIM Mati Tanpa Bikin Baru
Penelitian yang melibatkan 2.345 responden berusia 18-104 tahun ini menganalisis sampel air liur untuk melacak perubahan penanda kimia pada DNA.
Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan satu orang toksik dalam kehidupan seseorang dapat mempercepat penuaan sel sebesar 1,5 persen, membuat sel terlihat sembilan bulan lebih tua dari usia sebenarnya.
Dampak Lebih Besar pada Wanita
Kerusakan pada tingkat sel ini lebih banyak menyerang wanita dibanding pria.
Kehadiran pemicu masalah menimbulkan stres kronis yang merangsang pelepasan hormon kortisol, yang kemudian memicu peradangan tubuh.
Menurut profesor sosiologi di NYU, Byungkyu Lee, PhD, hampir 30 persen orang dewasa melaporkan adanya seseorang di lingkaran terdekat yang secara rutin membuat hidup lebih sulit.
"Orang-orang toksik ini tidak hanya membuat stres, tetapi juga dikaitkan dengan percepatan penuaan biologis, peradangan, depresi, kecemasan, dan beban penyakit kronis yang lebih tinggi," jelas Lee.
Konflik Keluarga vs Pasangan
Riset mencatat bahwa tekanan dari teman dan keluarga membawa kerusakan biologis yang lebih dalam dibanding konflik dengan pasangan hidup.
Interaksi suami istri biasanya masih diisi momen keintiman harian yang mampu menyeimbangkan ketegangan emosional saat konflik.
>>> Pemerintah India Blokir Telegram Selama Sepekan Cegah Kecurangan Ujian
Sebaliknya, gesekan dengan keluarga kandung sulit dihindari dan jarang memiliki titik keseimbangan yang setara.
"Keluarga dapat menciptakan stres yang terasa tertanam dalam dan sulit dihindari, tanpa campuran penyeimbang dari keintiman harian dan investasi bersama," tambah Lee.
Cara Melindungi Diri
Menjauhkan diri dari orang toksik memang tidak selalu mudah, terutama jika mereka adalah anggota keluarga.
Langkah terbaik adalah mengubah cara merespons sikap buruk tersebut untuk memitigasi dampak stres kronis.
Menurut asisten profesor psikiatri di Vanderbilt University Medical Center, Aaron P. Brinen, PsyD, seseorang bisa mundur sejenak untuk menata ulang cara pandang saat merespons situasi.
Selain mengatur pola pikir, menetapkan batasan yang tegas dan memperluas lingkaran pertemanan positif sangat disarankan.
Teknik pereda stres seperti meditasi juga dapat membantu menjaga ketahanan tubuh.
"Kehidupan sosial yang sehat mencerminkan kondisi kesehatanmu yang sebenarnya.
>>> Argentina Tekuk Aljazair pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Kebutuhan dirimu harus selalu jadi prioritas utama," pungkas profesor madya klinis psikologi di NYU Langone Health, Thea Gallagher, PsyD.