⌂ Beranda News Investor Asing Borong Panda Bonds China, Biaya Pinjaman Termurah di Dunia
News

Investor Asing Borong Panda Bonds China, Biaya Pinjaman Termurah di Dunia

Ilustrasi bendera China dan grafik obligasi
Ilustrasi ekspor China didorong AI dan energi hijau
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah bank di Wall Street, investor asing, dan perusahaan multinasional ramai-ramai membeli obligasi domestik berdenominasi yuan atau Panda Bonds dari China.

Obligasi ini dinilai menawarkan biaya pinjaman termurah di dunia.

Langkah tersebut dimanfaatkan otoritas Beijing untuk memperluas pengaruh mata uang yuan dalam transaksi internasional. Dorongan internasionalisasi ini dipicu oleh melebarnya kesenjangan suku bunga antara China dan negara-negara Barat.

Menurut laporan CNBC pada Rabu (17/6/2026), obligasi panda yang dijual penerbit luar negeri di pasar domestik China menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan Beijing.

Kesenjangan suku bunga yang semakin lebar antara China dan Barat menjadi faktor pendorong.

Volume Penerbitan Melonjak

Volume penerbitan Panda Bonds mencatat rekor signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Lembaga Moody's mencatat volume penerbitan mencapai 197,8 miliar yuan pada 2024 dan 183,1 miliar yuan pada 2025.

Pada minggu kedua Juni 2026, penerbitan obligasi ini telah melampaui 137,1 miliar yuan. Angka itu menandakan kenaikan sebesar 80,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Khusus pada Mei 2026, nilai yang diterbitkan menyentuh 26,64 miliar yuan dan diproyeksikan terus bertambah.

Moody's Ratings menyebut pendorong utamanya adalah kesenjangan suku bunga pendanaan dalam RMB yang jauh lebih murah daripada dolar AS.

Indonesia juga menunjukkan ketertarikan terhadap transaksi menggunakan yuan demi mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Pemerintah Indonesia dan China saat ini memperluas kerja sama Local Currency Transaction (LCT) untuk penggunaan rupiah-yuan dalam perdagangan dan investasi.

Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai langkah Bank Indonesia dan kerja sama Bank Mandiri sebagai strategis untuk mendorong transaksi nilai tukar non-dolar AS.

Hal itu dikutip dari Kompas. com pada Selasa (16/6/2026).

📰 Update Terbaru