⌂ Beranda News Asep Supena Ungkap Enam Hambatan Belajar Mahasiswa Disabilitas Netra

Asep Supena Ungkap Enam Hambatan Belajar Mahasiswa Disabilitas Netra

Asep Supena Ungkap Enam Hambatan Belajar Mahasiswa Disabilitas Netra
Mahasiswa disabilitas netra sedang belajar menggunakan laptop dengan screen reader
A A Ukuran Teks16px

Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Ditjen Diktisaintek Kemdiktisaintek, Asep Supena, memaparkan enam hambatan belajar bagi mahasiswa disabilitas netra.

Hal itu disampaikan dalam acara Ngopi Bareng Kemdiktisaintek di Senayan, Jakarta, pada Kamis (18/6/2026).

>>> Cristiano Ronaldo Dinilai Layak Juarai Piala Dunia 2026

Temuan tersebut diperoleh dari riset kualitatif melalui wawancara tertulis terhadap 52 mahasiswa dengan hambatan penglihatan.

Responden berasal dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pamulang (Unpam), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Asep Supena menceritakan metode pengumpulan data yang memberikan kebebasan kepada responden memilih instrumen pengisian data. Mereka bisa memilih berkas format Word atau Google Form.

in2

"Ketika mereka jawab, Google Form saja, saya kirim yang Google Form. File Word, saya kirim yang file Word.

Masuk lah 52 wawancara," tutur Asep Supena yang juga Dosen UNJ.

Melalui 24 pertanyaan mengenai kendala perkuliahan dan kebutuhan mahasiswa, riset ini merinci enam tantangan utama.

Keenamnya meliputi akses materi ajar, strategi pembelajaran, keterbatasan teknologi, evaluasi, interaksi sosial, serta infrastruktur.

Kendala Materi Ajar dan Teknologi

Kendala pertama adalah dosen sering memberikan dokumen hasil pemindaian (scan) yang tidak terbaca aplikasi pembaca layar (screen reader) di laptop mahasiswa netra.

"Jadi ada satu aplikasi yang bisa membunyikan tulisan menjadi suara. Ini bisa dibaca oleh Netra," jelas Asep Supena.

Masalah lain muncul dari metode pengajaran yang masih berpusat pada visual tanpa penjelasan verbal memadai.

>>> 5 Detail Gaya Anggun Gusti Sura di Malam 1 Suro Mangkunegaran 2026

Penggunaan instruksi abstrak seperti kata "kamu" atau petunjuk arah yang tidak menyebut nama mahasiswa secara spesifik juga menjadi kendala.

"Jadi ketika ada tulisan, tetapi itu di scan, itu tidak bisa dibaca.

Jadi dosen sedang merasa membantu, karena punya paper dalam bentuk soft file, tetapi ternyata inputnya adalah hasil scan, itu tidak bisa dibaca oleh screen reader.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru