Langkah serupa diambil Uni Emirat Arab (UEA) yang telah keluar dari OPEC untuk mendongkrak kapasitas produksi serta membangun jaringan pipa baru tahun depan.
Sementara itu, Irak tengah mengkaji peningkatan aliran minyak secara signifikan lewat jaringan pipa menuju Turki.
Goldman Sachs mengingatkan adanya skenario terburuk jika pembukaan selat berjalan lambat atau terhambat secara permanen.
"Kami menjabarkan skenario kenaikan harga di mana ekspor dari Teluk hanya pulih secara bertahap dan Selat Hormuz tidak pernah sepenuhnya dibuka kembali," sebut dia.
Jika skenario tersebut terjadi, harga minyak jenis Brent diperkirakan dapat menembus angka 130 dolar AS per barel pada akhir tahun.
"Masa depan mungkin akan ditandai dengan gangguan pasokan yang lebih sering dan besar di dunia yang sangat terfragmentasi, di mana AS dan China bersaing untuk kekuasaan geopolitik, dominasi AI, dan dominasi komoditas," ujar dia.
>>> iCAR Indonesia Luncurkan SUV Listrik V23 dengan Tiga Varian
"Namun, ini juga bisa menjadi dunia di mana kita akan terkejut dengan kemampuan untuk mengatasi gangguan pasokan tersebut," sebut dia.
