"Agar ekspor dari kawasan ini kembali normal sepenuhnya, arus melalui selat harus kembali ke sekitar 70 persen dari tingkat normal karena kita telah melihat banyak pengalihan melalui jalur pipa khususnya," ujar Struyven.
Faktor penentu utama dalam normalisasi lalu lintas kapal tanker di selat tersebut kini berada pada kebijakan politik Iran.
"Saya rasa pertanyaan kuncinya adalah, apakah ada kemauan di Iran untuk melihat peningkatan aliran dana?" kata dia.
Kesepakatan Damai dan Ketidakpastian
Peluang terbukanya kembali jalur pelayaran menguat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani dokumen fisik kesepakatan damai awal pada Rabu (17/6/2026).
>>> Cara Hindari Pajak Progresif Motor Bekas dengan Balik Nama
Melalui perjanjian pendahuluan tersebut, Iran sepakat membuka Selat Hormuz, sementara AS berkomitmen mencabut seluruh sanksi serta mengucurkan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS.
Kendati demikian, pihak Goldman Sachs mengingatkan bahwa tingkat ketidakpastian di pasar minyak masih sangat tinggi.
"Namun secara keseluruhan masih cenderung ke arah positif, karena belum tentu selat itu akan terbuka sepenuhnya.
Belum tentu, bahkan jika terbuka sepenuhnya, selat itu akan tetap terbuka," tutur Struyven.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat meski masih berada di bawah volume sebelum perang.
Berdasarkan data Bloomberg, arus pengiriman yang terdeteksi langsung mencapai 1,3 juta barel per hari, ditambah 1,6 juta barel per hari dari Teluk Oman melalui kapal yang mematikan sistem geolokasi untuk menghindari militer Iran.
Kondisi ini menunjukkan perdagangan mulai bergerak, namun produsen kini lebih nyaman menggunakan jalur alternatif yang minim risiko geopolitik.
Arab Saudi menjadi negara paling agresif dengan mengalirkan rata-rata 7,5 juta barel minyak per hari melalui East-West Pipeline menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
