PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) tetap optimistis terhadap prospek bisnis properti hingga akhir tahun 2026.
Optimisme ini muncul di tengah tantangan pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya suku bunga.
>>> Bank Indonesia Waspadai Dampak Inflasi Global dan Cuaca Ekstrem
Hingga Mei 2026, perusahaan mencatat realisasi marketing sales sebesar Rp823 miliar. Angka tersebut berasal dari pre-sales dan recurring revenue.
Realisasi itu setara dengan 41 persen dari total target tahunan yang dipatok sebesar Rp2 triliun. Manajemen terus memantau perkembangan makroekonomi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
Direktur MTLA Olivia Surodjo mengatakan, sejauh ini belum ada penurunan permintaan yang signifikan pada produk residensial perusahaan.
"Permintaan masih ada, terutama dari segmen end-user dan first home buyer yang menjadi mayoritas konsumen," ujarnya.
Antisipasi Kenaikan Biaya Konstruksi
Perusahaan mengantisipasi kenaikan biaya konstruksi sebesar 10 hingga 15 persen pada tahun ini, terutama untuk material besi dan baja ringan.
>>> PT Esa Medika Mandiri Siap IPO, Target Dana Rp 269 Miliar
Namun, dampaknya belum sepenuhnya terasa karena sebagian proyek masih menggunakan kontrak harga lama.
Olivia menjelaskan, penyesuaian harga dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi pasar, progres pengembangan kawasan, dan nilai tambah bagi konsumen.
Untuk menjaga profitabilitas, MTLA menjalankan program promosi Belanja Properti untuk rumah siap huni dengan biaya konstruksi lama.
Konsumen juga dapat memanfaatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan fasilitas KPR sebelum bunga kredit naik.
>>> MSCI Pertahankan Status Indonesia Sebagai Emerging Market, Catat Penurunan Skor Information Flow
"Prospek sektor properti semester II masih ada peluang untuk rumah yang ditempati sendiri, didukung insentif PPN DTP," tandas Olivia.
