Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan inflasi nasional yang dipicu oleh tekanan global dan ancaman cuaca ekstrem El Nino.
Langkah mitigasi diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga pangan.
>>> PT Esa Medika Mandiri Siap IPO, Target Dana Rp 269 Miliar
Faktor imported inflation menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi harga barang yang diatur pemerintah, terutama setelah penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi.
Komoditas pangan bergejolak juga berpotensi mengalami tekanan, meskipun pasokan pupuk domestik saat ini masih mencukupi.
"Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah rambatan global, yaitu harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau imported inflation.
Yang kedua, ini belum terjadi tetapi kita sudah alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca," ujar Aida, perwakilan BI.
Fenomena El Nino diprediksi berlangsung dari akhir Juni hingga November 2026. Antisipasi dini terus dilakukan bersama jajaran pemerintah daerah untuk meredam dampak buruk pada sektor pertanian.
"Proyeksi inflasi memang mulai mengalami peningkatan, tetapi seluruhnya masih berada dalam target inflasi 2,5% plus minus 1%.
>>> MSCI Pertahankan Status Indonesia Sebagai Emerging Market, Catat Penurunan Skor Information Flow
Jadi paling tinggi 3,5% dan itu masih dalam target," kata Aida.
Upaya menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional juga didukung dengan penyediaan likuiditas makroprudensial serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Sementara itu, inflasi tahunan per Mei 2026 masih dalam batas sasaran.
Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyatakan bahwa pihaknya mencermati imported inflation dan faktor cuaca sebagai risiko inflasi ke depan.
Ia mencatat ada 13 provinsi yang menunjukkan tren kenaikan inflasi melampaui rentang sasaran, seperti Papua Barat dan Aceh.
Kondisi ini memicu kenaikan harga komoditas hortikultura yang dapat semakin memburuk jika produktivitas pertanian di wilayah timur terganggu.
"Intensitas El Nino diperkirakan meningkat dan dapat menurunkan produktivitas hortikultura di beberapa wilayah, khususnya kawasan Indonesia Timur," jelas Ricky.
>>> Polres Jakut Tahan Selebgram Adam Deni Terkait Perusakan Ruko dan Intimidasi
Melalui 46 kantor perwakilan daerah, BI memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. Program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera dijalankan untuk menjaga kelancaran distribusi barang.
