Menurut perusahaan tersebut, cuaca ekstrem membuat masyarakat Eropa mulai memandang pendingin ruangan sebagai kebutuhan, bukan lagi sekadar pelengkap rumah.
>>> Piala Dunia 2026: Nasib Malang Jonathan Tah, Gol Dianulir dan Gagal Penalti
Tantangan Baru di Balik Lonjakan Penggunaan AC
Namun, meningkatnya penggunaan AC juga memunculkan tantangan baru. Semakin banyak perangkat pendingin yang digunakan, semakin besar pula konsumsi listrik.
Di sejumlah negara, lonjakan penggunaan AC mulai membebani jaringan listrik nasional.
Masalah lain muncul dari sektor energi.
Suhu air sungai yang meningkat membuat beberapa pembangkit listrik harus mengurangi kapasitas produksinya karena air tidak lagi cukup efektif untuk mendinginkan reaktor maupun turbin.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai cooling paradox atau paradoks pendinginan. Di satu sisi, AC menjadi teknologi penting untuk melindungi masyarakat dari suhu ekstrem.
Namun di sisi lain, penggunaan pendingin ruangan secara masif dapat meningkatkan konsumsi energi dan emisi karbon apabila listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Karena itu, banyak negara mulai mengembangkan teknologi pendingin yang lebih hemat energi.
Selain AC berteknologi efisien, solusi seperti ventilasi alami, atap reflektif, peneduh bangunan, hingga ruang hijau perkotaan kini semakin banyak diterapkan untuk membantu menurunkan suhu tanpa bergantung sepenuhnya pada listrik.
Gelombang panas yang semakin sering terjadi juga mengubah cara pandang masyarakat Eropa terhadap pendingin ruangan.
Jika sebelumnya AC dianggap bukan kebutuhan utama, kini perangkat tersebut mulai dipandang sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Seorang warga London, Tom Lydon, mengaku akhirnya membeli AC portabel setelah suhu di apartemennya terus meningkat. "Saya dulu mengira tidak akan pernah membutuhkan AC di Inggris.
Sekarang, saya tidak bisa membayangkan melewati musim panas tanpa alat ini," ujarnya.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa pendingin ruangan bukanlah solusi tunggal.
>>> Unboxing Poco Pad C1, Tablet Rp 2,2 Juta Pas untuk Belajar dan Hiburan
Menurut mereka, kombinasi teknologi pendingin hemat energi, desain bangunan yang lebih adaptif terhadap cuaca panas, serta pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi langkah penting agar masyarakat mampu menghadapi gelombang panas yang diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.