Komisi Eropa mengambil sikap netral dalam perdebatan sengit mengenai penggunaan pendingin ruangan (AC) di beberapa negara Eropa. Pihak eksekutif Uni Eropa menegaskan bukan wewenangnya untuk mendikte pilihan konsumen.
Hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki unit AC, jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan yang mencapai 90% atau lebih.
>>> Carlo Ancelotti Akui Jepang Bukan Lawan Mudah
Kurangnya sistem pendingin ini menjadi isu politik yang memicu kontroversi, terutama setelah gelombang panas brutal menewaskan sedikitnya 1.300 orang Eropa.
Juru bicara Komisi Eropa untuk urusan iklim, Anna Kaisa Itkonen, menyatakan bahwa AC bukanlah sesuatu yang secara tradisional sudah terpasang bawaan di sebagian besar bangunan Eropa yang cenderung tua.
Komisi Eropa menangani isu AC sebagai bagian dari kebijakan renovasi dan efisiensi energi bangunan, serta strategi perumahan.
>>> Robi Darwis Resmi Gabung Arema FC Usai Dilepas Persib
Itkonen menekankan bahwa Komisi tidak akan mengatur secara mikro bagaimana masyarakat harus menyikapi penggunaan unit AC di rumah tangga pribadi.
Sistem AC secara historis memang menimbulkan kontroversi di Eropa. Kritikus menyoroti beban listrik, pelepasan panas ke atmosfer, dan kegagalan mengatasi akar krisis iklim.
Sementara itu, pendukung AC berpendapat bahwa alat ini penting untuk memastikan kondisi hidup layak dan menjaga produktivitas kerja di tengah suhu yang meningkat.
>>> Motorola Hadirkan Smartphone Unggulan di Jakarta Fair Kemayoran
Di Prancis, partai sayap kanan National Rally mengusulkan subsidi massal untuk sistem AC, bahkan pemimpin Partai Hijau mengakui AC mulai menjadi kebutuhan.