Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya kesiapan matang untuk menggelar layanan 6G, mencakup perangkat teknologi dan spektrum frekuensi yang akan digunakan.
Saat ini, ketersediaan spektrum frekuensi belum memadai untuk mendukung layanan 6G.
>>> Mikel Merino Susah Tidur Usai Bobol Gawang Portugal di Piala Dunia 2026
Adanya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di masa depan akan sangat membutuhkan koneksi 6G.
Koneksi 6G idealnya memiliki kapasitas uplink lebih besar, latensi super rendah, mampu menangani transmisi data resolusi tinggi, mendukung komunikasi antar perangkat, hingga terintegrasi dengan AI.
Keterbatasan Bandwidth Spektrum
Untuk menghadirkan layanan 6G, operator seluler di Indonesia membutuhkan minimal lebar pita 200 MHz hingga 400 MHz.
Total bandwidth yang saat ini digunakan oleh operator seluler seperti Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XL Axiata adalah 452 MHz.
>>> Prancis vs Maroko: Singa Atlas Tak Mau Ulangi Kesalahan 2022
Namun, tidak ada satu operator pun yang memiliki lebar pita minimal 200 MHz.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan bahwa setelah lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, total bandwidth yang tersedia adalah 712 MHz.
Meskipun demikian, lebar pita terbesar dari lelang tersebut di frekuensi 2,6 GHz tidak mencapai 200 MHz, sehingga belum mencukupi kebutuhan satu operator untuk 6G.
Agenda sidang World Radio Communications Conferences (WRC) 2027 akan membahas pita frekuensi 4 GHz (4.400-4.800 MHz), 7 GHz (7125-8400 MHz), 15 GHz (14,8-15,35 GHz), dan di atas 6 GHz (6425-7125 MHz).
>>> Adopsi 5G Rendah, Indonesia Berpeluang Langsung ke Teknologi 6G
Situasi ini tidak mudah karena keempat pita frekuensi tersebut sudah ada yang menggunakan untuk berbagai keperluan seperti microwave link, satelit, dan radio navigasi penerbangan.
